Berita

susilo b. yudhoyono

Bisnis

SBY: Rupiah Anjlok, Menteri Jokowi Cari Kambing Hitam

KAMIS, 18 DESEMBER 2014 | 14:40 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pernyataan teranyar dari presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di media sosial pada dinihari tadi, jadi perbincangan hangat sampai detik ini. Apalagi isinya menyinggung kinerja pemerintahan saat ini yang suka "menyalahkan" orang lain atas keadaaan ekonomi yang memburuk.

Dalam kicauan di akun twitter dan ditulis ulang di akun facebook-nya dinihari tadi, SBY mengakui bahwa dirinya tetap mengikuti perkembangan situasi di tanah air, termasuk terjadinya gejolak ekonomi akibat jatuhnya nilai rupiah akhir-akhir ini.

Begitu juga mencermati perbincangan masyarakat terhadap persoalan ekonomi terkini, termasuk sejumlah pernyaatan pihak pemerintah. Dalam hal inilah SBY geram. Baca juga: Sayangnya, Menteri-menteri Jokowi Sibuk Menyalahkan Orang Lain...


"Memang yang paling mudah adalah mencari 'kambing hitam', atau harus ada pihak yang disalahkan, terutama terkait jatuhnya rupiah kita," ungkap SBY.

Ia menyinggung seorang pejabat pemerintah yang menuding bahwa kejatuhan ekonomi nasional ini akibat kebijakan pemerintahannya yang salah.

"Atas tudingan ini, saya minta kepada siapapun yang bersama saya 10 tahun di pemerintahan harap bersabar. Tak perlu ikut menuding kesana kemari. Menyalahkah orang lain tak akan menyelesaikan persoalan. Itulah pelajaran yang saya petik selama dulu memimpin negeri ini," katanya.

Karena itulah SBY mengenang kembali jasa para Menteri, Gubernur, ekonom, pebisnis dan pihak lain, yang amat sering bersamanya mengatasi persoalan ekonomi di 10 tahun masa jabatannya. Semua itu, aku SBY, tak akan dilupakannya.

"Termasuk kebersamaan kita, siang dan malam mengatasi gejolak minyak dunia tahun 2005 dan 2008, dan mengatasi krisis global tahun 2008 dan 2009. Atas keputusan, kebijakan dan tindakan yang kita lakukan, tanpa menyalahkan orang lain, Alhamdulillah kita bisa selamatkan ekonomi kita," tegasnya.

Kepada para pihak itu SBY mengucapkan terima kasih dan mengimbau untuk tetap bersabar jika apa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pada masa lalu, kini dengan mudah disalahkan.

"Jika ada yang salah dengan kebijakan pemerintahan SBY, semua itu tanggung jawab saya. Saya tak akan pernah menyalahkan yang lain," tulis SBY.

"Biarlah Tuhan dan rakyat yang menilai, apa yang kita lakukan dan ikhtiarkan untuk mengatasi persoalan bangsa di masa pemerintahan saya dulu. Prinsip kepemimpinan yang saya anut -pantang menyalahkan baik pendahulu maupun pengganti saya. Tabiat menyalahkan tak baik dan tak arif," sindir SBY.

"Saya juga tak suka menyalahkan pendahulu. Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur dan Ibu Megawati, semua ingin berbuat yang terbaik untuk rakyatnya," tambah dia.

Dalam situasi yang memburuk ini, lanjut SBY, pemerintah dan rakyat tidak boleh saling menyalahkan apalagi mencari kambing hitam. Selain tak etis, yang terpenting adalah solusi.

Terkait pernyataan SBY ini, publik teringat pada pernyataan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, terkait nilai tukar rupiah yang sempat anjlok menyentuh level Rp 12.661.

Sofyan mengatakan, melemahnya nilai rupiah adalah akibat kebijakan yang tidak dilakukan atau dilakukan pemerintahan masa lalu. Hal itu dikatakan Djalil di Kantor Wapres, Jakarta, pada Senin (15/12). [ald]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Marak OTT Kepala Daerah, PKB Minta Evaluasi Desain Pilkada

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:25

Program Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 288.865 Sekolah

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:20

8 Dekade BNI Tumbuh Bersama Indonesia dalam Semangat Swadharma Bhakti Nagara

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00

10 Biksu Thailand Tewas Tertabrak Pikap yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:47

Kemandirian Energi, Masa Depan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:42

UMiMAX Pertamina Bantu Masyarakat Rentan Kembangkan Usaha

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:30

Lewat X-ray, Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkotika

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:24

13 Negara Pastikan Tempat di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Aktivis Tibet Tewas Bakar Diri di Dekat Markas PBB New York

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Bupati Langkat Syah Afandin Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:11

Selengkapnya