Berita

balaikota jakarta/net

Kinerja Buruk Pemprov DKI Terulang pada 2014

SENIN, 15 DESEMBER 2014 | 19:29 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pelaksanaan APBD DKI Jakarta tahun 2014 adalah kinerja yang paling buruk dalam catatan perjalanan tata kelola pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Bukan hanya dalam sejarah pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, tetapi juga terburuk dari seluruh pemerintahan daerah di Indonesia.

Penilaian ini berdasar pada penyerapan dan pendapatan APBD yang terealisasi sampai awal Desember. Penyerapan anggaran berada pada posisi 36,07 persen. Sedangkan dalam hitungan minggu, pelaksanaan anggaran akan memasuki masa tutup buku. Sangat tidak masuk akal dengan sisa waktu yang ada tersebut dapat menyerap 63,93 persen sisa anggaran.

Hal ini ditegaskan Koordinator Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I) Jakarta, Sahat D. Manullang, dalam rilis yang diterima redaksi.


KP3I menyatakan, rendahnya penyerapan anggaran dan kinerja Pemprov DKI Jakarta sebenarnya sudah terjadi pada tahun sebelumnya (Tahun Anggaran 2013). Sampai akhir November 2013, penyerapan anggaran berada pada posisi 55,2 persen. Namun pada laporan akhir tahunan (LKPD) DKI Tahun 2013, realisasi penyerapan anggaran mencapai 82,23 persen atau senilai 38,30 triliun dari 46,57 triliun.

Tetapi berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI, dalam pengelolaan APBD terdapat banyak permasalahan dan temuan ketidakwajaran. Dari realisasi belanja 38,30 triliun tersebut, alokasi belanja untuk uang persediaan sebesar Rp 9,29 triliun dan terdapat 86 temuan yang nilainya mencapai Rp 1,54 triliun. Temuan tersebut adalah indikasi kerugian Rp 85,36 miliar, potensi kerugian Rp 1,33 triliun, kekurangan penerimaan Rp 95,01 miliar dan pemborosan Rp 23,13 miliar.

"Berdasarkan pemeriksaan tahun 2013 dan kinerja pada tahun 2014 (sampai awal Desember) tersebut, dapat kami simpulkan bahwa Pemprov DKI Jakarta memiliki kinerja yang rendah dan merupakan kejadian yang berulang pada tahun 2014," katanya. [ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya