DKI Jakarta justru harus mengubur impiannya untuk meloloskan nomor ganda campurannya ke babak final. Pasalnya pasangan DKI Jakarta, Chico Aura Dwi Wardoyo/Jauza Fadhila mundur di babak perempat final sebelum pertandingan usai.
Hal itu disebabkan karena adanya gangguan dari suporter tuan rumah yang sudah berperilaku senonoh dan tidak menghormati atlet yang sedang bertanding. Mereka bahkan sempat meneriakkan kata-kata yang tidak sopan kepada pasangan DKI Jakarta.
Ketua PBSI DKI Jakarta Icuk Sugiarto, yang sedang menyaksikan pertandingan tersebut kemudian memerintahkan pasangan DKI Jakarta, Chico Aura Dwi Wardoyo/Jauza Fadhila Sugiarto untuk mundur dari pertandingan yang sudah memasuki game ketiga. Saat itu, pasangan DKI Jakarta tertinggal 4-8 dari ganda tuan rumah Akbar Gusti/Nabila. Pada dua game sebelumnya kedua pasangan berbagi angka 21-12, 17-21.
"Ini anak remaja mereka tidak pantas diperlakukan seperti itu. Apalagi kata katanya sangat kasar. Kalau ingin juara lakukan dengan sportif jangan seperti itu. Apalagi panpel sudah berbuat curang dengan pengaturan kuota untuk bulutangkis," ucap Icuk.
"Lihat saja pemain kami sudah kelelahan karena turun juga di nomor tunggal dan mereka masih 'fresh'. Katanya mengusung sportifitas, tapi kenyataan di lapangan lain," ucap Icuk.
Ia mempertanyakan kebijakan KONI Pusat dan PB PON Remaja yang memberikan kuota empat atlet kepada tuan rumah Jatim, sementara daerah lain hanya mendapatkan jatah dua atlet yang juga harus merangkap bermain di nomor ganda campuran.
Hal senada dikatakan Ketua Harian KONI Pusat, Eddy Widodo."Saya sudah perintahkan Ketua Kontingen untuk protes tertulis. Apalagi pidato, Ketua Panpel, Gubernur dan Menpora sangat jelas bahwa azas sportifitas harus dijunjung tinggi oleh wasit, juri dan oficial kontingen," jelasnya
.[wid]