Berita

Dunia

Terungkap, Kebrutalan Metode Interogasi CIA Memicu Terorisme yang Lebih Besar

RABU, 10 DESEMBER 2014 | 04:02 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Laporan Senat Amerika Serikat menegaskan bahwa lembaga intelijen Amerika Serikat atau CIA melakukan interogasi "brutal" terhadap para tersangka Al Qaeda selama bertahun-tahun setelah serangan terorisme 9 September 2001 (9/11).

Ringkasan laporan yang disusun oleh kubu Demokrat di Komite Intelijen Senat, juga mengatakan, CIA telah melakukan pembohongan terhadap warga AS.

Laporan itu mengatakan bahwa cara-cara interogasi seperti yang dilakukan CIA tidak efektif. Hal ini berbeda dengan pernyataan Direktur CIA, John Brennan, yang bersikeras mengklaim metode interogasi mereka telah membantu menyelamatkan banyak nyawa.


Program interogasi brutal ini berlangsung sejak 2002-2007, selama masa jabatan Presiden George W Bush. Diketahui bahwa para tersangka Al Qaeda diinterogasi dengan menggunakan metode kejam, seperti waterboarding, menampar, menghina, membuat tahanan kedinginan dan kekurangan tidur. Metode tersebut disebut sebagai "Peningkatan Teknik Interogasi" (Enhanced Interrogation Techniques).

Analis BBC menyebut, tidak satupun dari metode interogasi brutal yang bisa menghentikan serangan teroris. Pemerintah AS dapat dengan mudah dituduh sebagai pemerintahan munafik dan tidak layak untuk mengkritik rezim brutal dan diktator di negara lain. Hal ini juga dapat mendorong para teroris untuk membenarkan kekejaman mereka.

Ketua Komite Intelijen Senat AS, Dianne Feinstein, menyebutkan tindakan CIA itu sebagai noda pada sejarah AS. Sebelumnya, Presiden Barack Obama yang menanggapi laporan tersebut, mengatakan metode yang digunakan tidak sesuai dengan nilai-nilai AS.

"Teknik ini menciptakan kerusakan yang signifikan pada posisi Amerika Serikat di dunia, dan membuat Amerika lebih sulit menjalankan kepentingan dengan sekutu dan mitra," katanya.

Menanggapi ringkasan laporan itu, para pemimpin Senat dari Partai Republik bersikeras bahwa metode yang digunakan CIA telah membantu dalam penangkapan tersangka penting, juga berperan penting dalam pembunuhan atas Osama bin Laden.

Sedangkan dari kalangan sekutu AS, Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan penyiksaan adalah hal yang salah.

"Dan kita harus jelas tentang fakta bahwa mereka salah," katanya.

Studi kasus penyiksaan yang terjadi adalah pada tersangka terorisme asal Arab Saudi, Abu Zubaydah. Sebagai perencana operasional formal Al Qaeda dan perekrut teroris, Abu Zubaydah ditangkap di Pakistan dan dikirim ke sebuah fasilitas rahasia di Thailand.

Sel tahanannya digambarkan tanpa cahaya alami atau jendela, tetapi dengan empat lampu mengarah ke dalam sel ditambah pendingin udara. Sejak 4-23 Agustus 2002, Abu Zubaydah menjadi sasaran empuk "interogasi yang ditingkatkan" itu selama hampir 24 jam sehari.

Personil keamanan memasuki selnya, kemudian membelenggu, menutupi kepalanya, kemudian menelanjanginya.

"Abu Zubaydah biasanya ditahan dalam keadaan telanjang dan kurang tidur," kata laporan itu.

Sebuah kotak diletakkan di lantai, terlihat seperti sebuah peti mati, selama interogasi. Setiap kali tersangka membantah memiliki informasi tertentu, para interogator menampar wajahnya.

Dilaporkan Reuters, seorang mantan narapidana di Teluk Guantanamo, Moazzam Begg, mengatakan, penyiksaan CIA terhadap tersangka terorisme adalah bahan bakar munculnya kelompok militan Negara Islam.

"Itu tidak membuat sesuatu yang lebih baik," ujar Begg.

Dia mengatakan, kebrutalan oleh para interogator CIA di dalam penjara-penjara rahasia di seluruh dunia hanya dapat menghasilkan kebencian yang lebih besar. [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya