Berita

denny ja/net

GEJOLAK GOLKAR

Denny JA: Cerdas, Munas Jakarta Gunakan Perppu Pilkada untuk Menangkan Opini Publik

SENIN, 08 DESEMBER 2014 | 10:01 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Ada tiga hal yang bisa menentukan Munas Golkar mana yang akan eksis di jagat politik Indonesia. Ketiga hal itu adalah hukum, opini publik dan politik pemerintah.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA. Untuk soal hukum, Denny menilai itu pengadilan yang akan berbicara. Lebih-lebih banyak hal yang publik tak bisa menilai legalitas detailnya. Dan juga, kedua munas itu dibuat dengan desain yang juga melibatkan ahli hukum, sehingga keduanya akan beradu bukti di pengadilan.

Terkait dengan faktor kedua atau opini publik, Denny JA menilai Munas Jakarta lebih cerdas. Sebab ketika Munas Bali pro-Pilkada via DPRD, Munas Jakarta pro-Pilkada langsung.


Denny menjelaskan, sudah 10 tahun rakyat merasakan memilih pemimpinnya. Karena itu, mengembalikan Pilkada via DPRD akan dianggap merampas hak rakyat. Dari sisi ini, semua kekuatan rakyat yang terdiri dari civil society, media, opinion makers tentu saja tidak akan tinggal diam sebab haknya dirampas.

Denny JA pun membandingkan sekaligus mengingatkan bahwa SBY saja yang saat itu menjadi Presiden di-bully dan dijadikan common enemy akibat Fraksi Demokrat yang walk-out dalam sidang Paripurna DPR, yang mengakibatkan kemenangan opsi Pilkada via DPRD. Menghadapi hal ini, SBY pun langsung merespon dengan melahirkan Peraturan Pemerintah Pengganti Uandang-undang (Perppu) untuk kembali pilkada langsung. Setelah Perppu terbit, kemarahan rakyat pun mereda.

"Munas Golkar Bali sangat tidak cerdas ingin merampas hak rakyat memilih pemimpinnya sendiri. Mereka menyepelekan kekuatan rakyat. Tambah tak cerdas lagi dengan keinginan Presiden pun akan dipilih secara tak langsung. Rakyat hanya dibiarkan menjadi penonton saja?" jelas Denny JA, dalam akun twitter-nya @DennyJA_WORLD, pagi ini (Senin, 8/12).

Denny JA mengingatkan lagi, gerakan Reformasi itu justru bertujuan memberikan rakyat hak politiknya untuk memilih pemimpin sendiri. Dan Presiden Soeharto, yang saat itu sangat kuat, bisa ditumbangkan rakyat yang marah karena berani menyepelekan hak rakyat.

Denny menilai Munas Jakarta sangat cerdas membaca kelemahan Munas Bali. Seketika Munas Jakarta membuat apa yang disebut contrasting atau pembeda. Dan kika Munas Bali tak kunjung merevisi programnya secara cepat, bisa dipastikan kekuatan rakyat berada di belakang Munas Jakarta. Civil society, media, opinion makers akan gegap gempita memperjuangkan pilkada lansung bersama munas Golkar Jakarta.

"Opini publik tahu juga memang politik itu kotor. Tapi mereka tetap tak menyukai penghianatan atas perjanjian yang sudah ditanda tangani. Munas Bali dituduh menghianati perjanjiannya dengan presiden saat itu, SBY untuk mendukung pilkada langsung," kata Denny JA, sambil mengatakan Demokrat dan PAN juga tak akan menyukai penghianatan itu.

"Munas Golkar Jakarta sekali lagi secara cerdas ikut memainkan kisah penghianatan Munas Bali. Munas Jakarta mendukung Perppu SBY. Untuk opini publik, Munas Jakarta menang telak. Munas Bali harus cepat mengoreksi blundernya atas pilkada via DPRD," sambung Denny JA lagi, sambil mengingatkan, semakin lama Munas Bali mengoreksi blundernya, semakin ia di-bully publik dansemakin Munas Jakata memperoleh bola muntah.

Untuk faktor ketiga, politik pemerintah, Denny mengatakan bahwa opini publik akan juga mempengaruhi sikap pemerintah. Jika opini publik netral saja, pemerintah sudah cenderung pada Munas Jakarta. Apalagi jika opini publik marah atas Munas Bali. Bisa dikatakan untuk opini publik dan dukungan pemerintah, Munas Jakarta mengungguli Munas Bali.

Kata Denny lagi, satu satunya yang bisa memveto opini publik dan preferensi pemerintah adalah pengadilan. Di situlah pertarungan penentu, walau sangat mungkin, pengadilan pun akan dipengaruhi oleh opini publik dan preferensi pemerintah.

"Namun kita berharap terjadi rekonsiliasi antara Munas Jakarta dan Munas Bali. Golkar adalah partai bersejarah. Jika tak ada rekonsiliasi, golkar sebagai partai yang akan rugi," demikian Denny JA. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Iran Sodorkan 14 Syarat Damai yang Harus Dipenuhi AS

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:59

KPK Soroti Aset Mangkrak Rp27,5 Triliun di Sulsel

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:20

Ribuan Jemaah Haji Bertahap Bergerak dari Madinah ke Makkah

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:14

Ratas Hambalang, Prabowo Matangkan Agenda Pendidikan hingga Hilirisasi Nasional

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:51

Mahasiswa Didorong Kembali jadi Kekuatan Pengontrol Sosial

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:39

Update harga BBM Terbaru di SPBU Pertamina, BP, hingga Vivo

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:27

Perpres Ojol Bawa Angin Segar Bagi Pengemudi Online

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:20

Pemerataan Pendidikan Kunci Wujudkan Indonesia Emas 2045

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:14

Amien Rais Sebaiknya Segera Klarifikasi

Minggu, 03 Mei 2026 | 07:46

Publik Nantikan Aksi Nyata Dudung Bereskan Masalah MBG

Minggu, 03 Mei 2026 | 07:36

Selengkapnya