. Ada tiga hal yang menjadi faktor penentu apakah Munas Golkar di Jakarta atau Munas Golkar di Bali yang akhirnya ekis di jagat politik mendatang.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, dalam akun twitter-nya @DennyJA_WORLD, pagi ini (Senin, 8/12).
Faktor pertama yang menentukan, jelas Denny JA, adalah legalitas hukum. Karena itu akan terjadi adu argumen dan bukti di pengadilan antara kubu Aburizal dengan kubu Agung Laksono, untuk menentukan Munas mana yang lebih sah.
Terkait dengan faktor pertama ini, lanjut Denny, sebelum ada putusan pengadilan, maka dua kepengurusan hasil Munas Bali atau Jakarta dianggap belum sah. Dan sesuai aturan yang ada, baik di pengadilan negeri atau kasasi, putusan pengadilan bisa 90 hari.
"Fraksi Golkar di DPR akan terus diperebutkan oleh dua Munas itu. Padahal bulan Januari 2015, Fraksi sudah harus bekerja setelah reses," ungkap Denny JA.
Faktor kedua yeng menentukan, masih kata Denny JA, adalah opini publik. Denny mengakui, memang yang menang di opini publik tidak otomatis menang pula di pengadilan. Tapi pengadilan "opini publik" akan mempengaruhi performa partai. Jika publik sudah mencap negatif, partaipun terancam menjadi "gurem."
"Publik akan menilai dua Munas itu tergantung dari program yang ditawarkan dan kualitas pengurusnya. Jika program yang ditawarkan merampas hak rakyat, dengan sendirinya munas itu akan dinilai sangat negatif," jelas Denny JA.
Sementara hal ketiga yang menentukan, kata Denny JA, adalah kecenderungan politik. Idealnya memang, hukum sama sekali terlepas dari preferensi pemerintah. Namun politik di negara demokrasi baru seperti Indonesia belum seideal itu.
"Pemerintah pasti akan lebih mendukung munas yang akan memperkuat posisi pemerintah, bukan yang memperlemah. Satu-satunya yg bisa menghalangi keberpihakan pemerintah adalah opini publik, atau bukti hukum yang sangat kuat," demikian Denny JA.
[ysa]