Berita

ilustrasi

Adhie M Massardi

Indonesia Darurat Demokrasi

MINGGU, 07 DESEMBER 2014 | 09:17 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

DEMOKRASI bukanlah metode untuk mendirikan kekuasaan yang kuat, yang disangga oleh parlemen yang kuat, partai yang kuat, jaringan pers yang solid, dan kekuatan bersenjata yang digdaya. Sehingga penguasa bisa berbuat apa saja tanpa bisa dikontrol.

Rezim pemilu dalam demokrasi bukan seperti lomba panjat (pohon) pinang pada acara 17-an memperingati proklamasi kemerdekaan RI, di mana seseorang yang berhasil mencapai puncak boleh secara tamak menggasak semua kekayaan (hadiah) yang tergantung di atas sana. Atau (hanya) berbagi dengan komplotannya yang secara berkolaborasi bahu-membahu mendorongnya hingga puncak kekuasaan. Sedang rakyat hanya jadi penonton.

Demokrasi menjadi pilihan banyak negara beradab di muka bumi karena ia merupakan metode paling rasional untuk membangun pemerintahan yang kuat, bermartabat dan (harus) bermanfaat bagi mayoritas rakyat.


Konsep periklanan dan komunikasi yang menipu mungkin bisa mengecoh rakyat pemilih (dalam pemilu) karena ditebar dengan pesona canggih lewat teknologi informasi dan perangkat komunikasi multi-media. Tapi masih ada parlemen, akal sehat yang dibangun oleh kalangan ulama, rohaniawan, intelektual, dan pers serta mahasiswa di kampus-kampus.

Demokrasi menjadi pilihan banyak negara beradab di muka bumi karena apabila terjadi "malpraktek" dalam pemilu, sehingga melahirkan penguasa yang tamak dan menipu, yang menjuali aset-aset negara demi privatisasi dan tuntutan pasar, padahal sesungguhnya itu korupsi dalam kemasan neoliberal, demokrasi menyediakan mekanisme yang terukur untuk mengganti rezim yang dzolim seperti itu.

Maka ketika di negeri ini muncul pikiran dan praktek untuk penguatan sistem presidensial dengan mengerdilkan dan memporak-porandakan Parlemen dan parpol, serta menafikan mekanisme kontrol, terutama dari kalangan civil society dan mahasiswa, sesunguhnya Indonesia sedang berada dalam darurat demokrasi”.

Demokrasi sedang bermetamorfosa menjadi tirani. Hati-hati...! [***]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya