Berita

net

Politik

Survei: Publik Sayangkan Pengkhianatan Golkar

SABTU, 06 DESEMBER 2014 | 01:38 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil penelitiannya soal pelaksanaan Musyawarah Nasional IX Partai Golkar.

Respon negatif publik terhadap hasil Munas Golkar adalah sikap politik paratai beringin yang menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1/2014 tentang pemilihan kepala daerah langsung.

"Mayoritas publik menyatakan bahwa mereka menyayangkan Munas Golkar yang ingin mengembalikan pilkada ke DPRD dengan menolak Perppu pilkada langsung dalam sidang paripurna DPR Januari 2015 mendatang," ungkap peneliti LSI Ardian Sopa dalam paparan survei di kantornya, Jalan Pemuda, Jakarta (Jumat, 5/12).


Dia menjelaskan, sebesar 82,70 persen publik menyayangkan sikap Golkar yang mendukung mekanisme pilkada melalui DPRD. Hanya 9,30 persen yang menyatakan mendukung sikap Golkar tersebut.

Menurut Ardian, hasil Munas Golkar yang menolak Perppu pilkada disayangkan karena membawa Golkar berhadapan dengan sentimen mayoritas pemilih yang merasa haknya dirampas. Publik pun menilai sikap Golkar itu mengkhianati janji terhadap Koalisi Merah Putih (KMP) khususnya Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Diketahui sebelumnya bahwa mantan presiden SBY pernah mengklaim dirinya telah memperoleh tanda tangan persetujuan dari para ketua umum dan sekjen partai yang tergabung dalam KMP untuk mendukung Perppu pilkada langsung. Ada sebanyak 72,30 persen publik menyatakan sikap Golkar sebagai bentuk pengkhianatan.

"Sikap Golkar pun dinilai akan menambah kesan bahwa politik itu kotor dan boleh ingkar janji. Hanya 12,30 persen publik yang tidak mempersoalkan sikap Golkar tersebut, dan dianggap bukan sebagai sebuah pengkhianatan," beber Ardian.

Penelitian LSI sendiri dilakukan melalui quick poll pada tanggal 3-4 Desember 2014. Menggunakan metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden di 33 provinsi dengan margin of error sebesar plus minus 2,9 persen. Survei juga dilengkapi dengan penelitian kualitatif lewat metode analisis media, focus group discussion, dan indepth interview. [why]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Ombudsman RI Pelototi Tata Kelola Haji

Kamis, 23 April 2026 | 10:15

Kemlu Protes Spanduk "Rising Lion" Israel di RS Indonesia Gaza

Kamis, 23 April 2026 | 10:06

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp17.274 per Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 09:21

Kisah Epik Sang ‘King of Pop’: Film Biopik Michael Resmi Menggebrak Bioskop Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:18

Ketua KONI Ponorogo Sugiri Heru Sangoko Dicecar KPK Soal Pemberian Fee ke Sudewo

Kamis, 23 April 2026 | 09:15

MUI Minta Jemaah Haji Doakan Pemimpin Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:14

Bursa Asia Menguat: Nikkei Cetak Rekor

Kamis, 23 April 2026 | 09:07

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 08:58

Wall Street Perkasa Berkat Donald Trump

Kamis, 23 April 2026 | 07:41

Pentagon Pecat Petinggi Angkatan Laut John Phelan di Tengah Gencatan Senjata

Kamis, 23 April 2026 | 07:25

Selengkapnya