Cara bisnis itu harus follow the people. Dari cara ini maka peluang Indonesia untuk memproduksi dan mengeksport pakaian muslim sangat besar. Misalnya ke negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim.
"Atau bisa juga eksport ke China. Pemeluk muslim di China kan banyak. Nah kita, sumber daya manusia ada, sumber daya alam juga ada," kata Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, saat berkunjung ke Koperasi Wanita Setia Bhakti Jawa Timur di Surabaya (Jumat, 5/12).
Koperasi Setia Bhakti Wanita di Surabaya merupakan salah satu koperasi yang menginspirasi. Koperasi ini memiliki 12 ribu anggota yang dibagi ke dalam 420 kelompok. Koperasi ini sudah memiliki aset sebesar Rp 8 miliar.
Dalam kesempatan ini, Puspayoga mengatakan sangat tertarik dengan nilai Tanggung Renteng yang menjadi falsafah koperasi ini. Ketua Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur, Untari, menjelaskan bahwa Tanggung Renteng itu sama dengan Gotong Royong, yang merupakan nilai asli Indonesia sebagaimana digali oleh Bung Karno.
Untari menjelaskan koperasi ini bermula dari arisan kaum ibu. Selain memegang teguh falsafah Tanggung Renteng, koperasi ini benar-benar mencerminkan ajaran Bung Karno, yaitu Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri. Sebab koperasi ini mandiri dan sama sekali tidak mengandalkan bantuan pemerintah.
Untari juga menegaskan bahwa koperasi ini dengan tegas menolak UU Perkoperasian yang dibuat pada masa pemerintahan SBY. Ia dan rekannya melakukan
judicial review ke MK, dan akhirnya MK membatalkan UU itu karena menilai tidak sesuai dengan UUD 1945.
"Kita semua berdoa, yang muslim
istighasah yang beragama lain juga berdoa sesuai agama masing-masing. Kita datang ke Jakarta, ke MK dengan biaya sendiri," ungkap Untari, yang juga Ketua Koperasi Wanita Setya Budi Malang.
"Kita gugat UU ini karena pro pada kapitalisme. UU ini merusak sistem Tenggang Rentang dan Gotong Royong. Kalau Pak Puspayoga kami yakin tidak mungkin bela kapitalisme," sambung Untari, yang disambut tepuk tangan hadirin.
[ysa]