Berita

Wihadi Wiyanto/rmol

Politik

Sepelekan DPR, Rezim Sekarang Lebih Parah dari Orde Baru

RABU, 03 DESEMBER 2014 | 00:50 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Anggota DPR RI mengkritik cara kerja pemerintah yang bersikap semaunya tanpa mempedulikan lembaga perwakilan rakyat. Sayangnya, publik dan media massa pun sering ikut-ikutan tidak adil dalam menilai kinerja Dewan.

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Wihadi Wiyanto, mengatakan hal itu menanggapi belum adanya komunikasi yang baik antara pemerintah dengan lembaga perwakilan rakyat. Padahal, Dewan akan memasuki masa reses pada 5 Desember.

Menurut dia, sebetulnya DPR sudah siap bekerja. Rekonsiliasi antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) sudah disepakati, walau belum ada niat dari politisi KIH untuk masuk dalam Komisi-Komisi.


Wihadi juga menyayangkan sempat terbitnya "surat perintah" dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada para menteri Kabinet Kerja yang isiya agar tidak datang memenuhi undangan rapat dari DPR RI. Dan dampaknya sampai sekarang. Walau Jokowi sudah mengklaim mencabut surat edaran tersebut, tetap saja para menteri bersikap "mbalelo". Padahal, Dewan seharusnya sudah aktif bekerja bersama pemerintah sejak Kabinet terbentuk dua bulan lalu.   

"Kenyataannya, menterinya tidak datang kalau dipanggil, contohnya Menteri Hukum dan HAM. Sampai Kapolri juga ikut-ikutan tidak datang. Itu kan sebenarnya sudah membuat slogan Jokowi 'kerja, kerja, kerja' tidak sesuai kenyataan," ungkap anggota Komisi III ini kepada , Selasa (2/12).

Menurut Wihadi, rekonsiliasi antara KMP dan KIH tidak ditindaklanjuti dengan baik. Ada satu pihak yang hanya ingin hadir dalam rapat-rapat yang berbicara soal kepentingannya saja, namun tidak masuk ke Komisi.

"Perubahan UU MD3 yang disyaratkan dalam kesepakatan itu butuh waktu. Sementara nama-nama di komisi baru diberikan pekan lalu. Itu pun anggotanya belum datang, belum masuk di komisi, tapi kunjungan kerja maunya ikut," ungkapnya sambil tertawa.

Ditegaskannya, sebetulnya DPR mau bekerja untuk rakyat. Ia sendiri sebagai anggota Dewan yang baru merasakan ada keinginan itu. Namun, terhambat oleh ego pemerintah dan segelintir koleganya di DPR.

"Kami ini mau kerja kok. Tapi dipelintir oleh media, seolah DPR enggak kerja dan cuma kabinet yang kerja. Media sepertinya sangat suka akan pencitraan-pencitraan yang berlebihan, tapi di sisi lain tak melihat banyaknya pelanggaran undang-undang. DPR dianggap apa?" ujar Wihadi.

Dalam pengelolaan perusahaan saja, lanjut Wihadi, jajaran Direksi harus minta persetujuan komisaris untuk mengubah penganggaran. Nah, yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla sekarang lebih buruk. Mulai dari alokasi anggaran, kenaikan harga bahan bakar minyak serta adanya nomenklatur-nomenklatur baru, semua menabrak aturan undang-undang.

"Ibaratnya, ini lebih parah daripada Orde Baru. Kalau Orde Baru, DPR-nya cuma tukang stempel kebijakan pemerintah. Kalau sekarang ini, cap dan stempelnya saja tidak ada," tutupnya. [rus]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya