Berita

Misbakhun/net

Politik

Misbhakun Ragukan Penyataan Surya Paloh Cs soal Impor BBM dari Angola

JUMAT, 28 NOVEMBER 2014 | 13:29 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Diskon pembelian 15 persen atas kerjasama minyak impor dengan perusahaan minyak asal negara Angola, Sonangol EP sebagaimana disampaikan ke publik oleh Ketum Nasdem Surya Paloh, Meneg BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Sudirman Said, diragukan Komisi XI DPR RI.

Salah satunya anggota Komisi XI yang meragukan itu adalah M. Misbhakun. Ia menilai pernyataan ketiga tokoh di atas yang mengatakan pemerintah dalam hal ini Pertamina akan mendapatkan harga lebih murah dari Sonangol dengan diskon 15 dolar AS per barel dari harga pasaran.

"Terus terang saya meragukan karena harga minyak di dunia selalu mengikuti harga pasaran. Ada term and condition, kemudian ada biaya angkut dan sebagainya. Dan harus diingat, diskon 15 persen itu besar sekali," katanya saat ditemui di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Jumat, 28/11).


Menurutnya, ide dan gagasan dari perusahaan Sonangol EP itu menarik untuk mencari jalan keluar terhadap sistem rente pedagangan minyak dunia yang seharusnya bersifat Government to Governmnent atau ’G to G’. Artinya, kalau memang benar ada diskon 15 persen dari Sonangol, maka dampaknya harga minyak yang dikonsumsi di Indonesia menjadi lebih murah.

Namun, kata Misbakhun yang perlu ditegaskan bahwa kerjasama ini harus benar-benar dilakukan secara G to G melalui Pertamina, jangan lagi melalui pihak ketiga seperti Surya Energi, apalagi Petral.

"Transparansi itu penting. Lakukan secara Goverment to Government. Jangan pakai operator lapangan lagi. Kalau akhirnya pemerintah melalui orang ketiga, seperti Surya Energi maka itu yang namanya mafia ganti mafia," sambungnya.

Lebih lanjut, Misbhakun mengibaratkan bahwa para politisi dari partai berkuasa saat ini sedang mengelilingi Presiden Jokowi. Mereka seolah mendapatkan jalan khusus untuk mendapatkan berbagai proyek di negara ini. Partai seolah balas dendam dengan memborong semua proyek yang ada.

"Dulu kamu yang berkuasa, sekarang giliran aku yang berkuasa. Karena saat ini partaiku yang berkuasa," analogi politisi Partai Golkar tersebut. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Ombudsman RI Pelototi Tata Kelola Haji

Kamis, 23 April 2026 | 10:15

Kemlu Protes Spanduk "Rising Lion" Israel di RS Indonesia Gaza

Kamis, 23 April 2026 | 10:06

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp17.274 per Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 09:21

Kisah Epik Sang ‘King of Pop’: Film Biopik Michael Resmi Menggebrak Bioskop Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:18

Ketua KONI Ponorogo Sugiri Heru Sangoko Dicecar KPK Soal Pemberian Fee ke Sudewo

Kamis, 23 April 2026 | 09:15

MUI Minta Jemaah Haji Doakan Pemimpin Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:14

Bursa Asia Menguat: Nikkei Cetak Rekor

Kamis, 23 April 2026 | 09:07

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 08:58

Wall Street Perkasa Berkat Donald Trump

Kamis, 23 April 2026 | 07:41

Pentagon Pecat Petinggi Angkatan Laut John Phelan di Tengah Gencatan Senjata

Kamis, 23 April 2026 | 07:25

Selengkapnya