Berita

ilustrasi/net

Politik

Selama Ini Subsidi Mengalir untuk KKN, Mafia dan Menutupi Salah Urus

KAMIS, 27 NOVEMBER 2014 | 12:33 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Hampir semua wilayah Indonesia dibagi habis untuk konsesi, tapi perusahaan asing yang memegang konsesi tidak melakukan apa-apa. Perusahaan asing malah bisa menggadaikan aset yang terkandung di dalam bumi Indonesia untuk keuntungan sendiri.

"Perusahaan asing tinggal pegang saja izin usaha 30 tahun. Contohnya, di luar industri migas, di Kalimantan Tengah ada perusahaan tambang batubara yang kandungannya batubaranya tinggi, BHP Billiton, punya Australia," jelas pakar ekonomi, Rizal Ramli, saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komite II DPD RI, di Senayan, Jakarta, kemarin.

Kerja perusahaan asing ini, katanya, cuma mengeluhkan infrastruktur kepada pemerintah. Namun di dalam buku keuangannya, aset di Kalimantan Tengah itu punya perkiraan nilai, dimasukkan di dalam aset kontinjensi. Sehingga, perusahaan bisa menaikkan saham, menerbitkan obligasi atau pinjaman dari bank. Sedangkan yang jadi jaminannya adalah aset batubara di Kalimantan Tengah. Rakyat Indonesia dibodohi oleh pihak asing dan oleh orang Indonesia yang jadi antek asing.


"Padahal tidak boleh. Yang punya aset itu pemerintah dan rakyat. Kenyataannya asing bisa gadaikan itu, pegang itu. Mereka mengeluhkan infrastruktur dan fasilitas. Padahal nilai cadangan yang dimilikinya puluhan miliar dollar, sudah dijaminkan dan dia pakai untuk menaikkan harga sahamnya. Dia bilang tidak bisa apa-apa, tunggu pemerintah Indonesia yang bangun infrastruktur," terang Rizal.

Kasus di atas adalah salah satu saja dari contoh pembodohan asing dan antek-anteknya untuk mengeruk sebesar-besarnya kekayaan alam Indonesia. Kongkalikong itu yang terjadi di dunia minyak dan gas bumi (Migas) nasional Indonesia.

Rizal menegaskan kembali bahwa persoalan besar minyak dan gas bumi (Migas) ada di hulu. Tiga isu besarnya adalah mafia migas, cost recovery dan pembangunan kilang. Baca: Rizal Ramli Membongkar Tiga Masalah Besar di Hulu Migas

"Itu yang namanya subsidi BBM sebesar Rp 230 triliun, itu buntutnya kurang dari Rp 50 trilun. Sisanya adalah subsidi untuk salah urus, korupsi, kesalahan manajemen. Rakyat kita dibodohi pejabat dan media tertentu, bahwa ini subsidi buat rakyat. Maaf, sekali lagi ini bukan subsidi untuk rakyat. Ini subsidi untuk KKN (korupsi kolusi nepotisme), mafia dan salah urus," katanya.

Ditegaskannya, kalau pemerintah tidak berani menyelesaikan tiga masalah di hulu itu, maka kenaikan harga bahan bakar minya bersubsidi akan terjadi setiap tahun. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya