Berita

ilustrasi/net

KEMACETAN MENGGILA

ITW: Pemerintah Harus Berani Moratorium Produksi dan Perketat Syarat Memiliki Kendaraan

SENIN, 24 NOVEMBER 2014 | 18:55 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Indonesia Traffic Watch (ITW) menilai kondisi lalu lintas Jakarta  akan lebih cepat mengalami stagnan bila pemerintah tidak segera melakukan pengetatan, bahkan moratorium (penangguhan) terhadap produksi kendaraan bermotor, pembatasan usia kendaraan, serta memperketat persyaratan untuk memiliki kendaraan.

ITW meningatkan bahwa jumlah kendaraan di Jakarta saat ini sudah hampir mencapai 20 juta unit, atau lebih banyak dari penduduk Jakarta yang secara resmi tercatat.
 
"Langkah yang efektif untuk mengatasi kemacetan di Jakarta adalah, pemerintah harus berani melakukan moratorium terhadap produk kendaraan di Jakarta," kata Ketua Presidium ITW, Edison Siahaan, Senin (24/11).
 

 
Menurutnya, pemerintah "berputar-putar" hanya untuk mengatasi kemacetan, khususnya di Jakarta. Padahal, penyebab kemacetan adalah akibat populasi kendaraan bermotor yang tidak terkendali, sementara pertumbuhan ruas jalan tidak seimbang. Ditambah lagi  faktor infrastruktur dan sarana prasarana yang masih jauh dari harapan serta masih sangat rendahnya kesadaran tertib lalu lintas masyarakat.
 
"Semua faktor penyebab kemacetan adalah domain pemerintah. Melakukan moratorium dan meningkatkan kesadaran tertib berlalulintas masyarakat, serta memperketat persyaratan memiliki kendaraan, adalah tanggung jawab dan kewenangan pemerintah," ujar Edison.
 
Dijelaskan, pemerintah harus berani membuat kebijakan moratorium terhadap semua jenis kendaraan untuk Jakarta. Serta membatasi usia kendaraan yang boleh melintas diruas-ruas jalan Ibukota. Kemudian memperketat persyaratan warga untuk memiliki kendaraan, contohnya harus memiliki garasi.

Sedangkan para produsen diarahkan agar memasarkan produknya ke wilayah luar pulau Jawa. Sehingga kestabilan perusahaan dan tenaga kerja bisa terjaga.

Menurut Edison, kebijakan tersebut sangat efisien dan efektif, karena tidak membutuhkan dana besar apalagi mendatangkan para ahli transportasi  dari negara lain dengan bayaran besar atau kompensasi harus menggunakan tekhnologinya. Sedangkan dampaknya hanya pada turunnya  Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).

"Tentu itu bisa diatasi , kalau Pemprov DKI lebih kreatif dan inovatif untuk menggali sumber lain karena  masih banyak yang potensi," jelasnya. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya