Berita

As'ad Said Ali/net

Pertahanan

Eks Wakil Kepala BIN: Seluruh Masyarakat Harus Dilibatkan Hadapi Kedatangan ISIS

SENIN, 24 NOVEMBER 2014 | 00:17 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Perkembangan kelompok radikal Islamic State, atau lebih dikenal dengan ISIS, tidak boleh dianggap sepele oleh pemerintah dan aparat keamanan Indonesia.

Sekitar 300 orang, dari antara seluruh militan ISIS, diprediksi berasal dari Indonesia. Kelompok ini bisa sewaktu-waktu pulang dari medan "jihad" mereka di Timur Tengah dan memindahkan wilayah perang mereka ke Tanah Air.

Demikian disampaikan mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), As'ad Said Ali, kepada , beberapa waktu lalu, di kantornya, Jakarta Selatan.


"Ini tidak main-main. Karena apa? Ada kekuatan yang bersaing. Barat dengan liberalnya terus menekan masyarakat Islam yang tidak semuanya mau menerima peradaban Barat," ujar As'ad.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini menerangkan bahwa tidak ada ajaran demokrasi di dalam kita suci Al Quran bagi ISIS. Karena itu, benturan peradaban tidak terhindarkan.

"Dalam banyak hal, kita di Indonesia bertentangan dengan Barat. Kita kan melawan juga, tapi kita berantem secara politik dan dialog. Sedangkan mereka (ISIS) konfrontasi. Hanya senjata yang bicara, tidak ada komporomi," imbuh As'ad, yang pernah 9 tahun lebih menjabat Wakil Kepala BIN.

Dalam pengamatannya, ada sekitar 300-an warga negara Indonesia yang "berjihad" bersama ISIS. Mereka berperang bukan cuma dalam hal membela agama, tapi juga membela kepentingan politik ISIS.

"Di sana kan bukan soal agama saja, tapi ada politik. Sesudah itu selesai, mereka pindah ke tempat lain. Lalu ada yang pulang ke Indonesia. itu yang harus diawasi karena dampaknya luar biasa," ungkapnya.

Kelompok itu, lanjutnya, sama seperti kebanyakan masyarakat dunia termasuk di Indonesia, yang menghadapi ketidakadilan Barat.

"Tapi kalau saya pribadi kan menghadapi Barat dengan dialog, politik, strategi dan konsolidasi. Kalau mereka hanya perang," tambahnya.

Pemegang gelar doktor kehormatan bidang hukum dari Universitas Diponegoro ini mengatakan, masyarakat dan pemerintah Indonesia mau tidak mau harus siap mengantisipasi kedatangan ISIS dalam gelombang besar.

"Mau tidak mau harus hadapi ini. Kita harus mengajak masyarakat dan ulama dan tokoh masyarakat dan juga non muslim untuk menghadapi bersama. Integrasi intelijen harus dimainkan. Dibutuhkan pengorganisasian-pengorganisasian," tegasnya.

"Kita harus membuat bagaimana masyarakat menjadi bagian intelijen tanpa secara formal. Berdayakan masyarakat dalam pertahanan dan keamanan. Itu kan membutuhkan kesadaran. Ini yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi ISIS," pungkas As'ad. [rus]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya