Berita

ilustrasi/net

Publika

Surat Kecaman Lingkar Advokasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin

RABU, 19 NOVEMBER 2014 | 05:11 WIB

Surat Kecaman

Kepada :
Kepala Negara Republik Indonesia
Kepala Polisi Republik Indonesia
Kepala Polisi Daerah Sul-Sel-Bar

Kepala Polisi Daerah Sul-Sel-Bar
Panglima Kodam VII/Wirabuana

Pada hari kamis 13 november 2014, aparat kepolisian menyerbu masuk ke dalam kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Memukul mundur mahasiswa yang sedang melakukan aksi demonstrasi menolak rencana pemerintah mengurangi subsidi BBM di depan kampusnya. Tidak hanya itu, di dalam kampus, aparat kepolisian melakukan pengerusakan terhadap fasilitas kampus, merusak semua kendaraan yang berada di sekitaran gedung Phinisi UNM, dan memukul rata setiap mahasiswa yang ditemuinya, perempuan ataupun laki-laki. Bahkan wartawan yang berada di lokasi pun tidak lolos dari ke-brutalan aparat.

Berita TV maupun online seketika ramai menampilkan foto salah seorang wartawan yang berdarah kepalanya akibat pukulan aparat kepolisian. Aparat kepolisian juga membabi buta menembaki mahasiswa yang sedang menjalani proses perkuliahan di ruang kelas dengan gas air mata, lalu menampar dosen yang sedang mengajar di kelas tersebut. Yang paling miris adalah wakil dekan salah satu fakultas di kampus itu pun diseret-seret layaknya saat polisi menyeret seorang kriminal.

Selang sehari setelah kejadian itu, beberapa polisi yang diperiksa mengaku bahwa tindakan tersebut adalah atas perintah atasan yang terkena anak panah saat bertugas mengamankan aksi demonstrasi mahasiswa. Fakta lain terkuak di media beberapa hari setelahnya. Polisi berhasil menangkap seorang bocah SMP yang telah dipastikan sebagai pelaku pemanahan. Bocah itu juga mengaku bahwa polisi menyuruhnya membawa busur untuk memanahi mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi.

Belum selesai sampai di situ, jauh-jauh hari sebelumnya, pada tanggal 27 oktober 2014, aparat kepolisian juga terlibat dalam peristiwa di Takalar saat PTPN berusaha merebut tanah-tanah milik petani yang menjadi anggota dalam Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar. Dengan persenjataan lengkap, mengawal PTPN melakukan perebutan lahan petani, bahkan, data terakhir yang kami peroleh, polisi juga menangkapi dua (2) orang anggota STP Takalar tanpa melalui prosedur yang jelas.

Lagi, pada tanggal 6 November 2014, polisi menembakan peluru karet kepada mahasiswa Universitas Indonesia Timur yang sedang melakukan aksi demonstrasi menolak rencana pemerintah mengurangi subsidi BBM. Dalam deretan aksi demonstrasi setelahnya yang dilakukan oleh berbagai kampus dimakassar, beberapa stasiun TV nasional maupun lokal menayangkan ulah polisi yang sedang melakukan pemukulan brutal terhadap mahasiswa yang berdemonstrasi. Bahkan beberapa pimpinan mahasiswa dan puluhan mahasiswa lainnya pun ditangkap saat sedang melakukan demonstrasi.

Lebih ironis lagi, dari serangkaian peristiwa tidak-biasa seperti di atas, pemerintah pusat belum juga mengambil langkah yang tegas atau sekedar mengeluarkan pernyataan untuk merespon resonansi gerakan sosial di Makassar yang kian membesar. Pemerintah tidak pernah memberi informasi memadai untuk memberi pemahaman yang merata dan merakyat kepada seluruh lapisan masyarakat. Informasi mengenai kebijakan pemerintah mengenai subsidi BBM hanya dapat diakses dan dipahami oleh kalangan berpendidikan.

Di tempat berbeda, Selasa 18 November 2014. Pukul 23:40 WITA, mahasiswa yang sedang beraktifitas bergegas mengosongkan kampus karena mendengar kabar bahwa anggota TNI (Cavaleri) hendak melakukan penyisiran dikampus.

Berdasarkan risil media, anggota TNI hendak mencari pelaku kerusuhan di pintu
satu UNAHS sore tadi. Sekelompok masyarakat yang mayoritas seusia anak SMA menyerang beberapa mahasiswa UNHAS yang sedang melakukan aksi demonstrasi. Sampai ekskalasi bentrok semakin tinggi, polisi tidak terlihat mengamankan situasi demonstrasi. Akibatnya, dua mahasiswa terkena busur dan dilarikan ke UGD. Sampai tengah malam, data dari salah satu media kampus UNHAS, 15 sepeda motor mahasiswa terbakar dan 2 mobil dirusak. Masjid kampus juga ikut dirusak oleh "warga."

Dari serentetan fakta peristiwa yang telah dipaparkan, kami Lingkar Advokasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin:

1. Dengan keras mengecam segala bentuk tindakan brutal yang dilakukan aparat polisi terhadap masyarakat petani Polongbangkeng Takalar dan menuntut agar aparat polisi segera menarik pasukan yang bersenjata lengkap dari tanah milik petani.

2. Dengan keras mengecam segala bentuk tindakan brutal aparat polisi terhadap mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi menolak pengurangan subsidi BBM.

3. Dengan keras mengecam tindakan barbar aparat polisi yang membatasi ruang-ruang penyamapaian aspirasi langsung oleh mahasiswa.
4. Dengan keras mengecam tindak pelecehan aparat polisi yang telah menciderai institusi pendidikan tingi.

5. Dengan keras mengecam pemimpin negara yang melalkukan pembiaran atas situasi gejolak sosial yang terjadi di Makassar

6. Dengan keras mengecam pemimpin negara yang telah mengorbankan citra institusi pendidikan dan polisi dalam polemik rencana keputusan mengurangi subsidi BBM.

7. Dengan keras mengecam aparat polisi yang melakukan pembiaran atas tindak pengrusakan yang dilakukan oleh pihak yang mengatasnamakan diri warga di dalam area kampus Unhas.

8. Menuntut agar aparat TNI menghentikan pemyisiran di dalam kampus Unhas. [***]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya