Berita

jokowi/net

Sudah Saatnya Jokowi-JK Keluarkan Jurus Nasionalisasi Substansial

RABU, 19 NOVEMBER 2014 | 03:35 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Kebijakan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kala selama ini bersifat karikatif. Dan kebijakan ini justru membuat tingkat kepuasan publik menurun.

Demikian disampaikan ahli ekonomi-politik Pusat Kajian Pancasila dan kepimpinan Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Yudhie Haryono, beberapa waktu lalu (Selasa, 18/11).

"Era blusukan sudah. Cari investor asing, sudah. Kerja kartu sudah. Ujungnya program kenaikan harga BBM, juga sudah. Lalu, kenapa tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi-JK menurun? Jawabannya adalah karena kerja itu berbasis nasionalisme karitatif atau pinggiran," kata Yudhie.


Menurut Yudhie, kebijakan-kebijakan Jokowi-JK belum menyentuh persoalan subtansi dasar berbangsa dan bernegara. Kebijakan yang ada pun hanya solusi jangka pendek.

Karena itu, menurutnya, kebijakan itu harus diperdalam dengan kebijakan subtantif, yang berbasis Pancasila dan Konstitusi. Dan dalam konteks ini, ada momentum bagi Jokowi-JK melakukan kerja konstitusional melalui enam hal.

Pertama, renegosiasi seluruh kontrak karya, jika tak berani nasionalisasi aset strategis. Kedua, hapus semua hutang najis yang selama ini membebani APBN. Ketiga, Jokowi-JK harus memproteksi dan mensubsidi seluruh produk dalam negeri. Keempat, sita aset-aset koruptor dan obligor nakal.

"Kelima, tradisikan nasionalisme di semua sektor pendidikan formal, informal, dan non formal. Keenam, investasi nasional berkelanjutan," jelas Yudhie.

Dia menyatakan kebijakan karitatif seperti kerja "mengobati lambung dengan kerokan", artinya bisa menyembuhkan tapi efeknya sebentar. Di dalam waktu singkat, kata dia, penyakit itu akan datang lagi dan bakan dengan serangan lebih hebat.

"Karenanya obat hanya satu, yakni kebijakan nasionalisme subtantif. Itulah definisi kerja konstitusional," ujarnya. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

KPK Tak Gentar Hadapi Praperadilan Mantan Waka PN Depok

Minggu, 03 Mei 2026 | 20:19

Ordal, pada Perspektif Rawls

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:54

KPK Telusuri Duit Panas Cukai ke Pengusaha Rokok

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:23

DPR Geram Ada PRT Tewas: Negara ke Mana?

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:17

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut akibat Perang Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:03

Renault Triber 2026, Sensasi Mobil Keluarga Rasa Eropa Harga Rp 106 Jutaan

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:01

Trump Ragu Terima 14 Syarat Damai Baru dari Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:33

DPR Ungkap Ada Skenario Damai di Balik Kasus PRT Tewas di Jakpus

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:09

Andi Arief Ingatkan Militer Masuk Pemerintah karena Sipilnya Koruptif

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:59

Menlu AS Sambangi Vatikan usai Perseteruan Trump dan Paus Leo XIV

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya