Berita

joko widodo/net

Politik

Kerja-kerja Jokowi Masih Berbasis Nasionalisme "Pinggiran"

SELASA, 18 NOVEMBER 2014 | 18:45 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Setelah menggembar-gemborkan program "blusukan", menarik investor asing dan kartu-kartu saktinya, kini Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengkampanyekan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Di sisi lain ada fakta bahwa tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi-JK terus menurun. Ahli ekonomi-politik dari Pusat Kajian Pancasila dan Kepemimpinan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Yudhie Haryono, mempunyai alasan mengapa kepuasan publik anjlok.

"Jawabannya adalah karena kerja itu berbasis nasionalisme karitatif atau pinggiran. Belum menyentuh persoalan subtansi dasar berbangsa dan bernegara. Maka, itu hanya solusi jangka pendek," kata Yudhie, Selasa (18/11).


Walau agak menyesatkan, katanya, kebijakan-kebijakan itu harus diperdalam dengan kebijakan substantif. Dalam kebijakan substansi itu, basisnya adalah Pancasila dan Konstitusi.

Masih menurut dia, kini ada momentum melakukan kerja konstitusional berupa renegosiasi seluruh kontrak karya, jika tak berani nasionalisasi aset strategis. Menghapus semua utang negara. Memproteksi dan mensubsidi seluruh produk dalam negeri. Menyita aset-aset koruptor dan obligor nakal. Mentradisikan nasionalisme di semua sektor pendidikan (formal, informal dan non formal) dan investasi nasional berkelanjutan.

"Ingatlah bahwa kebijakan karitatif seperti kerja 'mengobati lambung dengan kerokan', sembuh tapi sebentar. Penyakit itu akan datang lagi, lebih hebat. Karenanya obat hanya satu kebijakan nasionalisme subtantif. Itulah definisi kerja konstitusional," jelasnya.

Dia mengajak Jokowi sebagai presiden menajamkan "pena dan pikiran plus amal" dengan segera. Jika tidak, kepuasan warga negara akan meluncur ke titik nadir. Jika tidak, gelombang neoliberal akan jadi arus balik yang mencekik.

"Dan itu menyalahi janji kampanye revolusi mental sebagai usaha menghasilkan mental-mental revolusioner yang pro konstitusi, pro rakyat miskin, pro pemerataan, pro lingkungan, pro masa depan," tegasnya. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya