Berita

denny ja

Politik

Denny JA: Jokowi Terancam Jadi Presiden Terlemah dalam Sejarah Indonesia

SELASA, 18 NOVEMBER 2014 | 11:44 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus segera membuat gebrakan program yang manfaatnya dirasakan oleh publik luas, sebagai kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, untuk meredam penurunan kepercayaan masyarakat kepada dirinya.

Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, dalam serial tweetnya, beberapa saat lalu, Selasa (18/11).

Denny memantau perkembangan di media sosial, seperti yang sudah diduga, hashtag #ShameonYouJokowi dan #SalamGigitJari menjadi trending topic (pembicaraan teratas) di twitter, setelah kebijakan tak populis itu diumumkan resmi.


Karena itu, katanya, gebrakan harus dilakukan. Jika tidak, di masa bulan madu 100 hari, Jokowi terancam menjadi presiden terlemah dalam sejarah Indonesia karena tiga hal.

Pertama, Jokowi tidak mengontrol parlemen. Bahkan mayoritas parlemen potensial hostile (bermusuhan) kepada kebijakannya.

Kedua, Jokowi juga tidak mengontrol satu partaipun. PDIP dikontrol Megawati Soekarnoputri, bukan oleh Jokowi. Tadinya, satu-satunya kekuatan Jokowi saat ini adalah kepercayaan publik. Publik masih percaya ia bekerja untuk rakyat.

Namun situasi kini berubah. Awalnya, kabinet Jokowi diharapkan juga menjadi kekuatan Jokowi, sejauh itu kabinet the dream team. Namun, itu tak terjadi.

"Dengan naiknya BBM, satu satunya kekuatan Jokowi, 'trust' publik, juga terancam tergerus," ujar Denny JA..

Para ekonom dan kaum terpelajar yang rasional memahami mengapa harga BBM naik. Namun mayoritas publik tidak memahami karena kurang informasi. Apalagi, banyak ekonom, seperti Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli, memberikan pandangan kritis atas kenaikan BBM. Orang-orang ini pun sangat paham ekonomi.

Faktor ketiga yang membuat Jokowi potensial jadi presiden terlemah, dengan naiknya BBM Jokowi tak lagi menjadi figur yang populer. Jokowi mempercepat fase bulan madunya dengan publik. Jokowi hanya akan populer kembali jika ia membuat gebrakan program yang dirasakan manfaatnya oleh publik luas.

"Mampukah? Jokowi membuat gebrakan itu di saat parlemen hostile padanya, dan opini publik padanya sudah kritis? Ini tantangan Jokowi. Sangatlah sayang jika pemilu 2014 ini tidak berujung terbentuknya pemerintahan yang kuat. Tanpa pemerintahan yang kuat, ekonomi sulit tumbuh signifikan. Politik pun akan terlalu banyak riak yang tak perlu," tutup Denny JA. [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Bali Disiapkan Jadi “Dubai Baru”, Duit Asing Bebas Pajak

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:07

DPR Minta Pemerintah Cepat Terbitkan Aturan Turunan UU PPRT

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:01

Dugaan Korupsi Dana APBD untuk Unsultra Dilaporkan ke KPK

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:57

DPR: Kode Etik Media Arus Utama Lebih Jelas Dibanding New Media

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:38

Tarumajaya Raih Paritrana Award Bukti Desa Berpihak kepada Rakyat

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:26

Polisi Sudah Periksa 39 Saksi Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:15

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:11

Ombudsman RI Bentuk Majelis Etik untuk Tegakkan Integritas dan Profesionalisme

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:10

Sejarah Erupsi Gunung Dukono Masa ke Masa

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:06

PLN Bedah Mitigasi Risiko Pidana dalam Penerapan KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 08 Mei 2026 | 18:42

Selengkapnya