jokowi dan rizal ramli/net
. Ketika wacana mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) muncul ke permukaan, ekonom senior Dr. Rizal Ramli sudah menawarkan solusi dan jalan altrenatif bagi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Gagasan dan solusi dari Rizal Ramli ini sudah disampaikan kepada Ketua MPR yang lalu, Sidarto Danubsubroto, pada pertengahan bulan September. Saat itu, Sidarto berjanji akan menyampaikan hal itu kepada lingkaran Jokowi-JK. Sidarto juga berterima kasih atas konstribusi kajian ini dan akan ditindaklanjuti ke pemerintahan baru mendatang.
Pekan lalu, saran Rizal Ramli ini juga diterima Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman. Irman pun mendukung penuh gagasan ekonom senior Rizal Ramli seputar solusi atas masalah BBM tersebut. Dia bahkan akan membawa masalah ini dalam rapat konsultasi dengan Presiden.
Pekan lalu juga, Ketua DPP PDI Perjuangan, Effendi Simbolon, memuji usul Rizal Ramli untuk melakukan subsidi silang dan memisahkan jenis oktan yang dijual ke masyarakat. Kata Effendi, usul Rizal Ramli itu sudah benar.
Masih di awal pekan lalu (Senin, 10/11), dalam acara "Economic Challenges" bertajuk "Prioritas Pembangunan Jokowi-JK" di salah satu televisi swasta, Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago, berencana akan melakukan rapat dengan sejumlah menteri untuk membicarakan dan membahas seputar masalah BBM ini, termasuk membahasa gagasan cerdas dari Rizal Ramli. Menurut Andrinof Chaniago, ide yang dicetuskan oleh Rizal Ramli itu sangat bagus, dan ia akan mengundangnya untuk sama-sama membahas ide dan gagasan tersebut.
Apa gagasan dan solusi Rizal Ramli itu? Menurut Rizal Ramli, ada langkah sederhana tapi cerdas untuk menyelesaikan ruwetnya subsidi BBM. Caranya adalah melakukan subsidi silang. "Paksa" kalangan menengah atas membayar lebih mahal daripada rakyat kelompok bawah. Maka, bukan saja problem subsidi silang, pemerintah justru meraih keuntungan dari pos anggaran ini.
Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini juga mempunyai solusi untuk mengatasi kecemasan APBN jebol bila masih ada subsidi BMM, dengan mengusulkan agar BBM yang beredar di pasar dibagi jadi dua jenis. Jenis pertama, BBM rakyat yang beroktan 80-83 (saat ini jenis premium oktannya 88). Sebagai pembanding di Amerika, oktan general gasoline 86 dan di negara bagian Colorado 83. Jenis kedua, BBM super dengan oktan 92 untuk jenis pertamax dan 94 Pertamax Plus.
Nilai oktan berhubungan dengan "ketukan" (knocking) yang mempengaruhi kinerja mesin. Semakin rendah nilai oktan mesin akan lebih sering mengalami ketukan dan sebaliknya. Perbedaan oktan yang tinggi antara BBM rakyat dan BBM super akan membuat pengendara mobil menengah atas takut menggunakan BBM rakyat. Mereka tidak ingin mesin mobilnya menggelitik karena akan mempercepat kerusakan mesin dan biaya perbaikannya lebih mahal.
Data BPH Migas tahun 2013, kelompok menengah bawah mengkonsumsi sekitar 55 persen. Dengan kuota BBM tahun 2015 yang 50 juta kilo liter, maka jatah mereka mencapai 27,5 juta kl. Sedangkan sisanya yang 45 persen atau sekitar 22,5 juta dikonsumsi kalangan menengah atas. BBM super ini dijual seharga Rp 12.500 per liter.
"Guna meringankan beban rakyat, harga BBM rakyat tidak dinaikkan atau tetap Rp 6.500 per liter. Ini menyangkut nasib sekitar 100 juta penduduk miskin yang terdiri atas para pengguna sepeda motor, nelayan, dan pengemudi angkutan umum. Pada 2013 Kementerian ESDM menyatakan harga keekonomian BBM Rp 8.400 per liter. Itu artinya pemerintah harus mensubsidi Rp 1.900 per liter. Tapi dari hasil penjualan BBM super, pemerintah untung Rp 4.100 per liter," papar Rizal.
Sayang, kini, gagasan Rizal Ramli yang banyak mendapat pujian itu dikangkangi Jokowi. Jokowi, Senin malam (17/11), mencabut subsidi BBM. Harga BBM bersubsidi jenis premium naik menjadi Rp 8.500 per liter atau naik Rp 2.000, dari semula harga Rp 6.500 per liter. Sementara solar naik menjadi Rp 7.500 per liter atau naik Rp 2.000, dari semua Rp 5.500 per liter.
Selasa siang nanti (18/11), Rizal Ramli akan kembali berdialog dengan pimpinan MPR terkait dengan persoalan BBM ini.
[ysa]