Berita

jokowi dan rizal ramli/net

KENAIKAN HARGA BBM

Jokowi Kangkangi Usul Rizal Ramli

SELASA, 18 NOVEMBER 2014 | 00:05 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Ketika wacana mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) muncul ke permukaan, ekonom senior Dr. Rizal Ramli sudah menawarkan solusi dan jalan altrenatif bagi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Gagasan dan solusi dari Rizal Ramli ini sudah disampaikan kepada Ketua MPR yang lalu, Sidarto Danubsubroto, pada pertengahan bulan September. Saat itu, Sidarto berjanji akan menyampaikan hal itu kepada lingkaran Jokowi-JK. Sidarto juga berterima kasih atas konstribusi kajian ini dan akan ditindaklanjuti ke pemerintahan baru mendatang.

Pekan lalu, saran Rizal Ramli ini juga diterima Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman. Irman pun mendukung penuh gagasan ekonom senior Rizal Ramli seputar solusi atas masalah BBM tersebut. Dia bahkan akan membawa masalah ini dalam rapat konsultasi dengan Presiden.


Pekan lalu juga, Ketua DPP PDI Perjuangan, Effendi Simbolon, memuji usul Rizal Ramli  untuk melakukan subsidi silang dan memisahkan jenis oktan yang dijual ke masyarakat. Kata Effendi, usul Rizal Ramli itu sudah benar.

Masih di awal pekan lalu (Senin, 10/11), dalam acara "Economic Challenges" bertajuk "Prioritas Pembangunan Jokowi-JK" di salah satu televisi swasta, Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago, berencana akan melakukan rapat dengan sejumlah menteri untuk membicarakan dan membahas seputar masalah BBM ini, termasuk membahasa gagasan cerdas dari Rizal Ramli. Menurut Andrinof Chaniago, ide yang dicetuskan oleh Rizal Ramli itu sangat bagus, dan ia akan mengundangnya untuk sama-sama membahas ide dan gagasan tersebut.

Apa gagasan dan solusi Rizal Ramli itu? Menurut Rizal Ramli, ada langkah sederhana tapi cerdas untuk menyelesaikan ruwetnya subsidi BBM. Caranya adalah melakukan subsidi silang. "Paksa" kalangan menengah atas membayar lebih mahal daripada rakyat kelompok bawah. Maka, bukan saja problem subsidi silang, pemerintah justru meraih keuntungan dari pos anggaran ini.

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini juga mempunyai solusi untuk mengatasi kecemasan APBN jebol bila masih ada subsidi BMM, dengan mengusulkan agar BBM yang beredar di pasar dibagi jadi dua jenis. Jenis pertama, BBM rakyat yang beroktan 80-83 (saat ini jenis premium oktannya 88). Sebagai pembanding di Amerika, oktan general gasoline 86 dan di negara bagian Colorado 83. Jenis kedua, BBM super dengan oktan 92 untuk jenis pertamax dan 94 Pertamax Plus.

Nilai oktan berhubungan dengan "ketukan" (knocking) yang mempengaruhi kinerja mesin. Semakin rendah nilai oktan mesin akan lebih sering mengalami ketukan dan sebaliknya. Perbedaan oktan yang tinggi antara BBM rakyat dan BBM super akan membuat pengendara mobil menengah atas takut menggunakan BBM rakyat. Mereka tidak ingin mesin mobilnya menggelitik karena akan mempercepat kerusakan mesin dan biaya perbaikannya lebih mahal.

Data BPH Migas tahun 2013, kelompok menengah bawah mengkonsumsi sekitar 55 persen. Dengan kuota BBM tahun 2015 yang 50 juta kilo liter, maka jatah mereka mencapai 27,5 juta kl. Sedangkan sisanya yang 45 persen atau sekitar 22,5 juta dikonsumsi kalangan menengah atas. BBM super ini dijual seharga Rp 12.500 per liter.

"Guna meringankan beban rakyat, harga BBM rakyat tidak dinaikkan atau tetap Rp 6.500 per liter. Ini menyangkut nasib sekitar 100 juta penduduk miskin yang terdiri atas para pengguna sepeda motor, nelayan, dan pengemudi angkutan umum. Pada 2013 Kementerian ESDM menyatakan harga keekonomian BBM Rp 8.400 per liter. Itu artinya pemerintah harus mensubsidi Rp 1.900 per liter. Tapi dari hasil penjualan BBM super, pemerintah untung Rp 4.100 per liter," papar Rizal.

Sayang, kini, gagasan Rizal Ramli yang banyak mendapat pujian itu dikangkangi Jokowi. Jokowi, Senin malam (17/11), mencabut subsidi BBM. Harga BBM bersubsidi jenis premium naik menjadi Rp 8.500 per liter atau naik Rp 2.000, dari semula harga Rp 6.500 per liter. Sementara solar naik menjadi Rp 7.500 per liter atau naik Rp 2.000, dari semua Rp 5.500 per liter.

Selasa siang nanti (18/11), Rizal Ramli akan kembali berdialog dengan pimpinan MPR terkait dengan persoalan BBM ini. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

KPK Tak Gentar Hadapi Praperadilan Mantan Waka PN Depok

Minggu, 03 Mei 2026 | 20:19

Ordal, pada Perspektif Rawls

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:54

KPK Telusuri Duit Panas Cukai ke Pengusaha Rokok

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:23

DPR Geram Ada PRT Tewas: Negara ke Mana?

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:17

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut akibat Perang Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:03

Renault Triber 2026, Sensasi Mobil Keluarga Rasa Eropa Harga Rp 106 Jutaan

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:01

Trump Ragu Terima 14 Syarat Damai Baru dari Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:33

DPR Ungkap Ada Skenario Damai di Balik Kasus PRT Tewas di Jakpus

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:09

Andi Arief Ingatkan Militer Masuk Pemerintah karena Sipilnya Koruptif

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:59

Menlu AS Sambangi Vatikan usai Perseteruan Trump dan Paus Leo XIV

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya