Berita

haider al-abadi/net

Dunia

Keputusan PM Abadi Rombak Jajaran Petinggi Militer Disambut Baik

JUMAT, 14 NOVEMBER 2014 | 02:07 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, yang baru menjabat pada Agustus lalu menggantikan Nuri al-Maliki, mengeluarkan keputusan yang cukup berani di awal masa jabatannya.

Abadi memberhentikan sejumlah besar komandan militer demi meningkatkan moral pasukan Irak memerangi kelompok bersenjata Negara Islam Irak-Levant atau ISIS yang sudah merebut banyak wilayah di seluruh Irak.

Al Jazeera melaporkan dari Baghdad, sebanyak 36 perwira tingkat tinggi terkena dampak keputusan itu. Sebanyak 26 dipindahtugaskan, sedangkan 10 lainnya dipaksa untuk pensiun.


Seorang perwira senior di Kementerian Pertahanan Irak mengungkapkan, melalui kebijakan itu Abadi mengirim pesan kepada pasukan di garis depan bahwa mereka berjuang untuk persatuan Irak.

"Dan ini adalah sinyal bahwa nilai-nilai sektarian sudah berakhir dalam angkatan bersenjata Irak," tegas sumber itu kepada Al Jazeera.

Selama lebih dari satu dekade Irak berjuang meredam kekerasan dan perselisihan bernuansa sektarian. Kini keharusan untuk bersatu itu semakin kuat karena semakin besarnya ISIS yang telah menguasai sepertiga dari negara kaya minyak itu. Saat ini, tentara Irak yang didukung oleh pasukan udara Amerika Serikat, masih tergopoh-gopoh menghadapi gerakan ISIS

Hamed al-Mutlaq, seorang politisi Sunni Irak, mengatakan bahwa langkah PM Abadi ini adalah gebrakan positif dan pada gilirannya akan memberikan lebih banyak kekuatan untuk aparat keamanan.

"Ada kebutuhan untuk perubahan dan 'darah segar'," kata al-Mutlaq.

Haider al-Abadi sendiri bukan sosok baru di pemerintahan Irak. Memang ia sempat lama meninggalkan tanah kelahirannya setelah menerima gelar sarjana pada 1975. Abadi belajar di University of Manchester, Inggris dan menerima gelar doktor teknik elektro di sana.

Namun, dia kembali ke negaranya setelah Saddam Husein jatuh, dan kemudian menjabat Menteri Komunikasi di pemerintahan sementara pada tahun 2003.  [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Bali Disiapkan Jadi “Dubai Baru”, Duit Asing Bebas Pajak

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:07

DPR Minta Pemerintah Cepat Terbitkan Aturan Turunan UU PPRT

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:01

Dugaan Korupsi Dana APBD untuk Unsultra Dilaporkan ke KPK

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:57

DPR: Kode Etik Media Arus Utama Lebih Jelas Dibanding New Media

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:38

Tarumajaya Raih Paritrana Award Bukti Desa Berpihak kepada Rakyat

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:26

Polisi Sudah Periksa 39 Saksi Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:15

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:11

Ombudsman RI Bentuk Majelis Etik untuk Tegakkan Integritas dan Profesionalisme

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:10

Sejarah Erupsi Gunung Dukono Masa ke Masa

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:06

PLN Bedah Mitigasi Risiko Pidana dalam Penerapan KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 08 Mei 2026 | 18:42

Selengkapnya