Berita

martin hutabarat/net

Politik

Gerindra: Penghematan Ala Jokowi-JK Sudah Pernah Diprogramkan SBY

Tapi, Cuma Hangat-hangat Tahi Ayam
SABTU, 08 NOVEMBER 2014 | 08:16 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Kebijakan Pemerintah yang melakukan penghematan keuangan negara dengan melarang aparaturnya menyelenggarakan rapat-rapat atau seminar, simposium, outbound dan kegiatan pemerintahan lain yang tidak begitu penting di hotel-hotel berbintang patut diapresiasi.

"Sebab, selama ini sering terjadi, sulit mendapatkan tempat menyelenggarakan suatu acara di hotel-hotel, karena hotel-hotel mewah tersebut sudah dipesan untuk acara rapat Kementerian atau lembaga-lembaga pemerintah. Bukan hanya di Jakarta tapi hampir di semua kota besar," kata anggota DPR RI dari Partai Gerindra, Martin Hutabarat, kepada , Sabtu pagi (8/11).

Anggota Komisi 3 DPR RI ini juga mengapresiasi langkah penghematan biaya dengan mengurangi perjalanan-perjalanan dinas ke luar negeri atau kota-kota lain dan membatasi penggunaan kelas bisnis untuk pejabat-pejabat tinggi dan direksi-direksi BUMN.


"Ini akan ditiru pejabat bawahan dan kita bisa menghemat pengeluaran negara berpuluh-puluh triliun dalam setahun dengan kebijakan ini. Kita berharap agar penghematan ini bisa konsisten dilaksanakan pemerintahan Jokowi-JK ke depan," ungkapnya.

Martin mewanti-wanti, kebijakan penghematan ini "jangan hangat-hangat tahi ayam", mulanya bersemangat tapi lesu di kemudian hari.

"Inilah yang disebut politik pencitraan. Di depan saja seolah baik, tapi sesudahnya lupa lagi," katanya.
 
Anggota Dewan Penasihat Partai Gerindra ini mengatakan, program efisensi anggaran ini sudah pernah dirancang Presiden RI sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono, di awal pemerintahannya. Ia mengeluarkan kebijakan penghematan, persis seperti yang dilakukan sekarang ini. Rakyat pun memuji waktu itu. Tapi sesudah 1-2 tahun, pemerintahan kala itu lupa akan komitmennya.

"Ini yang menyebabkan munculnya anggaran berpuluh-puluh triliun di APBN sekarang untuk biaya perjalanan dinas dan rapat-rapat di hotel mewah yang sebenarnya tidak perlu," pungkas Martin.  [ald]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Ini Alasan Nusron Wahid Tak Nongol di DPR Usai Anak Buah Dicokok KPK

Rabu, 16 September 2026 | 16:28

Prabowo Sampaikan Duka Cita atas Kecelakaan KM Virgo Transport 8

Rabu, 16 September 2026 | 16:17

Panja RUU Pemilu Dipastikan Dibentuk Tahun Ini

Rabu, 16 September 2026 | 16:15

Perlu Diusut Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Muara Baru

Rabu, 16 September 2026 | 16:11

PT 5 Persen Bikin Partai Nonparlemen Makin Berat ke Senayan

Rabu, 16 September 2026 | 16:10

Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading-Manggarai, Danantara Diminta Ikut Bantu

Rabu, 16 September 2026 | 16:09

Bapemperda DPRD DKI Dorong Penguatan Perlindungan Anak di Ruang Digital

Rabu, 16 September 2026 | 16:00

OPM Bunuh Sopir Angkutan Masyarakat, Mobil Dibakar

Rabu, 16 September 2026 | 15:47

Kolaborasi Lintas Lembaga Terus Diperkuat Meski Karhutla Menurun

Rabu, 16 September 2026 | 15:44

KPK Periksa 3 ASN BPK terkait Dugaan Suap Pengubahan Audit Pemkab Muara Enim

Rabu, 16 September 2026 | 15:32

Selengkapnya