Berita

jokowi/net

Jokowi Harus Ingat, CIF Suka Barter Kerja Sama dengan Kepentingan Monopoli

KAMIS, 06 NOVEMBER 2014 | 08:05 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, khususnya Kementerian Luar Negeri, sebaiknya membuat white paper terkait dengan kebijakan politik luar negeri sampai lima tahun mendatang. Sebab bila kebijakan politik luar negeri tidak jelas dan bahkan bila pilihan-pilihan ekonomi luar negeri itu sangat pragmatis, tentu ini bisa mengganggu stabilitas regional.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi I, Hanafi Rais. Pernyataan Hanafi ini terkait dengan pertemuan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dengan pihak China International Fund (CIF). Pertemuan ini tak bisa dilepaskan dari kunjungan dan pertemuan Retno dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi beberapa waktu lalu.

Dalam catatan Hanafi, di dunia internasional, CIF termasuk sindikasi minyak internasional, yang tidak transparan, dan tidak sepenuhnya rofesional. Hanafi juga mencatat, minyak yang dijual ke China itu berasal dari negra-negara di Afrika, terutama Angola.


"Kita menghadapi konflik secara tidak langsung berkepentingan dengan Laut Cina Selatan. Kalau kemudian kebijakan yang sudah dilakukan, dengan CIF, dengan Bank Infrastruktur Cina, maupun yang lainnya kurang bisa diukur, maka jangan-jangan ini menimbulkan reaksi dari aktor-aktor pemain di kawasan Asia ini," ungkap Hanafi dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 6/11).

Hanafi juga mengingatkan bila kerja sama Indonesia dengan CIF tetap dilakukan, maka itu bisa mengirim pesan kepada negara-negara lain yang selama ini berhubungan baik dengan Indonesia, bahwa Indonesia sudah bias kepentingan. Indonesia pun tidak bisa diharapkan lagi menjadi penyeimbang di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara.

Hanafi juga mengingatkan lagi, kebiaasan CIF adalah membarter kerja sama dengan kepentingan mereka. Misalnya kalau di Indonesia sudah teken soal infrastruktur, atau misalnya perkeretaapian, maka sebagai barter, maka pihak CIF ingin bekerjasama di bidang energi misalnya, atau ingin membeli gas atau minyak, atau batubara murah dan lain sebagainya.

"Kalau mau diam-diam, harusnya tidak perlu MoU. Karena ada MoU, maka harus transparan, karena menggunakan pejabat publik, menggunakan anggaran publik, maka harus disepakati DPR juga," tegas Hanafi, yang merupakan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

DPR sendiri, lanjut Hanafi, masih menunggu jawaban apakah sebenarnya MoU itu sudah resmi atau belum. Tapi yang jelas, kerjasama Indonesia dengan negara manapun tidak masalah. Hanya saja, bila bicara politik, karena urusannya dengan negara lain, jangan sampai mengejar sesuatu, tetapi lantas mengirim pesan kepada orang lain menjadi salah.

"Jadi lebih baik, lebih cermat. Kemenlu kita minta untuk membuat white paper, rencana strategi polugri selama 5 tahun ke depan mau apa. Dan bicara soal polugri, pasti ada kaitannya dengan kebijakan ekonomi luar negeri. Itulah yang harus jelas. Dua minggu lagi kita akan rapat dengan Kemenlu," demikian Hanafi. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

KPK Tak Gentar Hadapi Praperadilan Mantan Waka PN Depok

Minggu, 03 Mei 2026 | 20:19

Ordal, pada Perspektif Rawls

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:54

KPK Telusuri Duit Panas Cukai ke Pengusaha Rokok

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:23

DPR Geram Ada PRT Tewas: Negara ke Mana?

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:17

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut akibat Perang Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:03

Renault Triber 2026, Sensasi Mobil Keluarga Rasa Eropa Harga Rp 106 Jutaan

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:01

Trump Ragu Terima 14 Syarat Damai Baru dari Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:33

DPR Ungkap Ada Skenario Damai di Balik Kasus PRT Tewas di Jakpus

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:09

Andi Arief Ingatkan Militer Masuk Pemerintah karena Sipilnya Koruptif

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:59

Menlu AS Sambangi Vatikan usai Perseteruan Trump dan Paus Leo XIV

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya