Berita

foto:net

Politik

Calon Dirut Pertamina Wajib Lolos Seleksi KPK dan PPATK

RABU, 05 NOVEMBER 2014 | 13:55 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Banyak pihak menghawatirkan masih ada mafia yang akan bermain dalam pemerintahan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) - Jusuf Kalla (JK). Terutama yang ditakuti adalah para mafia yang berkeliaran di sektor migas.

Ketua Tim Pemberantasan Mafia (TPM), Taufan Hunneman, menegaskan, Jokowi-JK harus memperhatikan bahwa pengangkatan Direktur Utama (Dirut) Pertamina harus terlebih dahulu melewati verifikasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi (PPATK).

Mengapa mesti begitu? Pertama, untuk memutus mata rantai mafia migas di badan usaha milik negara itu. Kedua, agar Jokowi dapat masukan yang objektif. Ketiga, yang jauh lebih penting, adalah menempatkan orang yang dapat menjalankan visi Nawacita (sembilan program prioritas) terkait kedaulatan energi.


Taufan dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Rabu (5/11), juga mengatakan, nama-nama calon dari internal yang muncul antara lain adalah Hanung Budya yang pernah menjabat sebagai Direktur Petral yang identik dengan mafia minyak. Lalu ada Hari Karyuliarto yang pernah menjabat Dirut Pertagas yang masih bermasalah terkait pengaturan proyek pipa di lingkungan Pertagas seperti Arun Belawan Semarang Gresik serta masalah pemasangan turbin kompresor.

Taufan mengingatkan agar Jokowi-JK hati-hati dalam memilih calon Dirut yang selama ini jadi bagian dari birokrasi Pertamina yang harus direvolusi mentalnya.

Taufan menambahkan KPK dan PPATK harus mampu memberikan tanda merah dan kuning jika nama-nama tersebut terindikasi kasus korupsi.

"Itulah sebabnya nama-nama yang muncul perlu dicek-ricek oleh pihak KPK dan PPATK. Dan KPK harus memberikan garis stabilo merah maupun kuning atas calon yang ada jika ternyata bermasalah secara hukum dan ada kecurigaan karena rekening yang besar, " pungkasnya. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Bali Disiapkan Jadi “Dubai Baru”, Duit Asing Bebas Pajak

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:07

DPR Minta Pemerintah Cepat Terbitkan Aturan Turunan UU PPRT

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:01

Dugaan Korupsi Dana APBD untuk Unsultra Dilaporkan ke KPK

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:57

DPR: Kode Etik Media Arus Utama Lebih Jelas Dibanding New Media

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:38

Tarumajaya Raih Paritrana Award Bukti Desa Berpihak kepada Rakyat

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:26

Polisi Sudah Periksa 39 Saksi Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:15

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:11

Ombudsman RI Bentuk Majelis Etik untuk Tegakkan Integritas dan Profesionalisme

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:10

Sejarah Erupsi Gunung Dukono Masa ke Masa

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:06

PLN Bedah Mitigasi Risiko Pidana dalam Penerapan KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 08 Mei 2026 | 18:42

Selengkapnya