Berita

haris azhar/net

Politik

Kontras: Jokowi Tidak Sekuat yang Kita Pikir

RABU, 29 OKTOBER 2014 | 17:52 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Melihat susunan kabinet dan tindakan kepolisian menangkap cepat pelaku penghinaan Joko Widodo di facebook, sepertinya tanda-tanda pemerintahan ini sangat toleran terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM) semakin kentara.

"Itu yang saya lihat. Jokowi sepertinya tidak punya masalah menunjuk orang yang punya potensi masalah hukum dan catatan pelanggaran HAM di masa lalu," ungkap Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, kepada , beberapa saat lalu (Rabu, 29/10).

Dia menduga Jokowi-JK akan nyaman dengan pelanggaran HAM di masa pemerintahannya. Hal itu sudah Kontras prediksi sejak Pemilihan Presiden lalu.


"Dia (Jokowi) nyaman-nyaman saja. Dalam pemilu presiden lalu rakyat tidak punya opsi yang bagus. Calon yang satu punya catatan masalah hukum, dan calon lainnya dikelilingi orang yang punya masalah hukum," ujar Haris.

Akibatnya sekarang, lanjut dia, bangsa ini tidak bisa keluar dari lingkungan elite yang bermasalah dengan hukum.
 
"Dia (Jokowi) tidak sekuat yang kita pikir. Dia masih dikelilingi Mega (ketum PDIP), purnawirawan tentara yang bermasalah dan juga kelompok pengusaha yang punya catatan buruk. Akhirnya menghasilkan nama-nama kabinet yang buruk," urainya.

Sebelumnya, Haris menilai Kepolisian RI telah menjadi kepanjangan tangan dari pemerintahan Joko Widodo yang menunjukkan tabiat represif kepada rakyatnya sendiri.

Hal itu ia katakan menanggapi penangkapan oleh Badan Reserse Kriminal Mabes Polri terhadap Muhammad Arsyad (MA) alias Imen (24), warga Ciracas, Jakarta Timur, yang dituduh menghina Presiden Joko Widodo melalui facebook saat masa kampanye pilpres lalu.

Haris juga mengkritik masuknya dua nama bekas petinggi militer yang buruk dalam catatan HAM ke dalam bursa calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) baru, yaitu eks Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin dan Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Letjen TNI (Purn) Sutiyoso.

"Dua-duanya punya catatan pelanggaran HAM, dan kasusnya belum selesai. Dan itu tidak baik buat bangsa ini dan tidak baik untuk keluarga korban dan tidak baik buat masa depan bangsa," terangnya.  [ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya