Berita

ilustrasi/net

Kaum Neolib Juga Gunakan Isu Anti Korupsi untuk Duduki Kursi Empuk Menteri

SELASA, 28 OKTOBER 2014 | 09:10 WIB | OLEH: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Mantra Trisakti yang menjadi bahan jualan Joko Widodo-Jusuf Kalla saat kampanye ternyata tak kuat menahan gelombang dan arus neoliberalisme. Atau bahkan dengan kata lain, ajaran agung Trisakti itu memang hanya untuk pemanis menarik simpati belaka.

Terbukti, beberapa kader neoliberalisme masuk, atau sengaja dimasukkan, ke dalam Kabinet Kerja. Mereka selamat dari perhatian dan kritik publik karena menutupi mukanya dengan kedok profesionalisme.

Di saat yang sama, publik sudah terlanjur kesal, atau sengaja dicipatakan untuk kesal, kepada tokoh-tokoh partai politik. Maka logika sesat over-generalisasi diam-diam merasuk ke pikiran banyak orang, lalu menyimpulkan: semua politisi itu busuk, cacat, tak profesional dan sarat kepentingan.


Padahal faktanya, tak sedikit politisi yang profesional dan punya kapasitas. Dan banyak juga, manusia-manusia berkedok profesionalisme itu sejatinya adalah kader-kader yang dididik untuk menghamba pada kepentingan asing, dan penuh dengan ragam kepentingan. Bahkan kepentingan itu adalah untuk melindas tujuan Kemerdekaan Republik.

Sehingga, dari sisi ini, bisa dibaca dengan jelas, dikotomi profesional dan kader partai, hanyalah senjata ampuh sementara kaum neoliberal untuk menghabisi politisi ideologis yang punya komitmen kebangsaan dan nasionalisme yang tinggi. Di saat yang sama, mereka menawarkan orang-orang yang dinilai profesional, yang terlanjur dipercaya hebat dan mumpuni itu, untuk mengeruk dan menghisap habis semua sumber kekayaan alam Indonesia.

Belakangan, ada beberapa sosok menteri yang disebut-sebut sebagai aktivis anti-korupsi dan bebas dari pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Banyak orang terbius, lalu melupakan jejak langkah di masa lalunya.

Padahal perlu juga dicatat, selain kata sakti profesionalisme, kaum neoliberal dan kapitalisme global juga sering menggunakan isu korupsi dan pelanggaran HAM untuk menyudutkan dan menghabisi kekuatan lama di satu negara, terutama di negara-negara berkembang.  Negara-negara berkembang itu, yang sudah terlanjur terlalu lama hidup dalam otoriterianisme dan diktatorisme, memang selalu terlilit dengan persoalan korupsi dan pelanggaran HAM.

Di tengah sistem yang otoriter, atau di saat masa-masa transisi demokrasi, dua persoalan ini, yang bahkan sudah jadi jeratan sistem, juga belum bisa dipotong habis oleh kelompok nasionalis atau para politisi yang selama ini dibungkam. Bahkan, dengan sistem buruk itu, tak mustahil memang para politisi yang punya komitmen menegakkan kamandirian dan kedaulatan bangsa itu juga "kecipratan" dua persoalan ini.

Dengan kondisi ini, masuklah kader-kader kelompok neolib internasional, yang terlihat memakai jubah putih tanpa noda korupsi dan pelanggaran HAM. Mereka lalu menghancurkan kubu nasionalis, di tengah publik yang tidak lagi terlalu peduli dengan ancaman besar yang sedang merongrong, karena memang penjajahan bukan lagi penguasaan tanah sebagaimana imperialisme di masa purba atau kolonialisme di abad yang lalu. Neolib berubah bentuk jadi mafioso-mafioso yang sangat samar dan seakan tak nyata.

Padahal bila dilihat secara lebih dekat, justru para mafia neolib inilah yang korup dan melanggar HAM. Namun sekali lagi, korupsi mereka bukan menjarah satu dua tiga miliar rupiah, melainkan korupsi dalam bentuk kebijakan sehingga negara harus "ikhlas" kehilangan ratusan bahkan ribuan triliun dalam sekian tahun. Kisah korupsi kebijakan ini, tanpa berita atau drama di KPK.

Mafia neolib ini memang tidak membunuh satu dua orang, tapi secara tak langsung, dengan kebijakan juga, membunuh jutaan orang yang kelaparan atau tersingkir mati setelah lama jadi pengemis dan pengangguran. Kisah kematian ini, tanpa berita atau panggung di corong-corong HAM internasional.

Siapakah menteri-menteri neolib itu? Jejak rekam dan lingkungan-jaringan mereka di masa silam atau kebijakan mereka di masa mendatang, suatu saat, tak lagi bisa menutupi kedok profesionalisme, anti-korupsi maupun bebas pelanggaran HAM. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

DPR Minta Evaluasi Perlintasan Usai Insiden Tabrakan Argo Bromo-KRL

Selasa, 28 April 2026 | 00:15

KRL Sempat Menabrak Taksi Sebelum Diseruduk KA Argo Bromo

Selasa, 28 April 2026 | 00:04

Kedaulatan Data RI jadi Sorotan di Tengah Gejolak Geopolitik

Senin, 27 April 2026 | 23:46

Tim SAR Berjibaku Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 23:24

Kereta Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur, KAI Masih Investigasi

Senin, 27 April 2026 | 23:10

Heboh Anggaran Baju Dinas Pemprov Sumsel Tembus Rp3 Miliar

Senin, 27 April 2026 | 22:30

Kuasa Hukum Thio: Jangan Korbankan Terdakwa Atas Kesalahan Negara

Senin, 27 April 2026 | 22:28

Rocky Terkekeh Dengar Candaan Prabowo Soal “Disiden” di Istana

Senin, 27 April 2026 | 22:11

Kejati Sumut Geledah Kantor Satker Perumahan Usut Dugaan Korupsi Proyek Rusun

Senin, 27 April 2026 | 22:11

KAI Fokus Evakuasi Penumpang di Stasiun Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 22:06

Selengkapnya