Berita

joko widodo/net

Politik

Gerindra: Kalau Jokowi Merasa Terganggu dengan Koalisinya, Gabung Saja ke KMP

SABTU, 25 OKTOBER 2014 | 14:59 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

. Berlarut-larutnya pembentukan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla akibat tekanan partai pendukung saat Pilpres 2014 kini mulai terbukti.

"Hal ini akibat assesment (penilaian) KPK yang memberikan catatan merah dan kuning yang terindikasi korupsi. Partai pendukung keberatan akibat calon-calon menterinya yang tidak lolos oleh jaring KPK," ungkap Ketua DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), FX Arief Poyuono, Jumat (24/10).

Tekanan besar juga dilakukan oleh sejumlah anggota tim sukses dan tim penggalangan dana saat Pilpres yang calon-calonnya banyak ditolak akibat terindikasi kasus korupsi. Jika hal itu yang terjadi, lanjut Arief, maka sebaiknya Joko Widodo mengambil langkah tegas karena hak memilih dan mengangkat menteri adalah hak prerogratif presiden.


"Kalau awalnya saja Jokowi tidak tegas dalam menggunakan hak preogratif, maka harapan pemerintahan yang kuat untuk mengaplikasikan program-program kerakyatan yang dijanjikan Jokowi saat kampanye bisa jadi akan berantakan dan kepercayaan pasar juga akan menurun terhadap pemeritahan Jokowi-JK," tuturnya.

Menurut Arief, Jokowi-JK tidak perlu takut kepada partai pendukung dan timses selama langkah yang diambil adalah untuk kemajuan bangsa.

"Dan saya rasa Gerindra dan koalisinya juga bisa dijadikan partner Jokowi untuk menjalankan pemerintahannya agar terbentuk pemerintahan yang kuat," tegasnya

Ia pun membuka pintu selebar-lebarnya bagi Joko Widodo untuk bergabung dengan Koalisi Merah Putih (KMP), karena dari sisi kekuatan politik KMP lebih kuat di parlemen daripada koalisi yang mendukung pemerintahan Jokowi-JK.

"Apalagi platform Trisakti yang diusung Jokowi mirip dengan platform KMP. Sudah terbukti selama Jokowi jadi gubernur DKI Jakarta, Gerindra tidak pernah cawe-cawe dalam pemerintahan Jokowi selama jadi gubernur," tambahnya. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya