Berita

sofyan djalil/net

Politik

MENANTI KABINET JOKOWI-JK

JK Ngotot Masukkan Sofyan Djalil, Jokowi Berjudi?

SABTU, 25 OKTOBER 2014 | 08:11 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Bocoran proyeksi kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) terakhir menguatkan dugaan bahwa mantan Menteri BUMN, Sofyan Djalil, ditunjuk sebagai Menko Perekonomian.

Bos kementerian BUMN di era SBY-JK (2007-2009) ini muncul di tengah redupnya nama-nama seperti Sri Mulyani, Darmin Nasution, Kuntoro Mangkusubroto, Chatib Basri dan Sri Adingsih yang kemungkinan tersingkir karena seleksi KPK-PPATK atau karena terus dikritik publik terkait ideologi neoliberalisme yang mereka anut.

"Ini adalah suatu advonturisme politik dari JK. Kita tahu bahwa Sofyan Djalil bukanlah orang yang mengerti makro ekonomi, kompetensi yang bersangkutan tidak pas dengan posisinya. Tapi mungkin karena ia sangat loyal kepada JK jadi seolah dipaksakan ditempatkan di sana (menko ekonomi)," ujar peneliti Lingkar Studi Perjuangan, Gede Sandra, kepada , Sabtu (25/10).


Sofyan Djalil adalah orang pasar modal dan lebih memahami mikro dibanding makro ekonomi.  Namun yang perlu disoroti di sini adalah hubungan Sofyan Djalil dengan Skandal Bank Century. Tokoh politik yang sebelumnya pernah menjabat Menkominfo ini tercatat pernah diperiksa KPK dua kali (tahun 2010 dan 2014) terkait "skandal raksasa" itu.

"Yang juga perlu kita tanyakan di sini adalah mengapa JK memaksakannya menjadi Menko Perekonomian? Sofyan ini sebenarnya the right man on the wrong place. Seharusnya, Jokowi tidak perlu berjudi dengan nasib perekonomian Indonesia di saat situasi ekonomi dunia masih di bawah bayang-bayang resesi," ujar Sandra.

Gede Sandra juga mengungkapkan, berhembus kabar meskipun JK kerap mengaku tidak mau menjadi RI-1, tapi pada praktiknya ia berambisi untuk mengendalikan semua urusan pemerintahan Jokowi. Mulai dari penentuan menteri-menteri yang penting dalam ekonomi, bahkan termasuk dalam hal ajudan-ajudan di sekeliling Jokowi.

"Dapat kemudian dibaca bahwa niat JK sesungguhya adalah tetap menjadi 'the real President'," tukasnya. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya