Berita

Politik

Jokowi, Penentang atau Bagian dari Kaum Neoliberal Pembajak Slogan Trisakti?

KAMIS, 23 OKTOBER 2014 | 20:23 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Beberapa alasan dipakai Joko Widodo berkaitan dengan berlarut-larutnya pembentukan kabinet. Alasan pertama penundaan berkaitan dengan penyesuaian dengan DPR RI soal kementerian-kementerian baru yang dibentuk.

Alasan kedua, delapan nama dicoret alias mendapat tanda merah dan kuning dari KPK dan PPATK. Alasan ketiga, pencoretan itu mengharuskan Presiden Joko Widodo memasukkan nama-nama baru. Dan pada saat yang sama membuat orang-orang yang mengusulkan nama-nama itu harus memberi kandidat baru.

Menanggapi situasi ini, dalam pandangan analis kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, pasti ada pengaruh kelompok neoliberal yang mencoba untuk menunggangi slogan Trisakti yang selalu dikumandangkan Jokowi.


"Dalam iklim politik Jakarta yang seperti rimba raya menyimpan misteri, Jokowi mesti memiliki kekuatan intelektual dan spritiual. Kalau tidak, akan seperti sekarang. Tertunda-tunda menimbulkan banyak tanda tanya besar," kata Ichsanuddin Noorsy kepada , Kamis malam (23/10).

Ekonom senior ini pastikan, kaum neoliberal akan sebisa mungkin menunggangi slogan Trisakti dan ekonomi mandiri walau itu tidak cocok dengan gaya mereka.

"Slogan Trisakti ini yang akan mereka bajak atau mereka simpangkan. Maka mereka melakukan lobi, pendekatan, meyakinkan. Itu sangat penting agar mereka tetap pegang posisi kunci dengan bungkusan profesionalitas," ungkapnya.

Apakah Jokowi serius dan mampu melawan pengaruh kelompok anti konstitusi, Trisakti dan kemandirian ekonomi itu, Noorsy belum dapat memastikannya karena sangat tergantung struktur pemerintahan kabinet yang dipilihnya.

"Sampai sekarang harus kita tunggu personil kabinet. Konsisten dengan semangat perlawanan Jokowi atau tidak, sejalan dengan slogan Trisakti atau tidak, sejalan atau tidak dengan revolusi mentalnya?," urainya.

Sebetulnya, dengan menggagas Trisakti, seharusnya Jokowi berseberangan dengan orang-orang neoliberal. Secara normatif dia harus mengambil jarak dengan orang-orang itu.

"Ini kan politik, tergantung dia pilih teman siapa dan punya lawan siapa. Saya tidak tahu orang-orang yang dia ajak berteman dalam rombongan barisan menegakkan Trisakti. Barisannya siapa? Pengkhianat konstitusi kah? Jadi statusnya adalah hipotesis," ucapnya.

Dalam sumpah jabatan presiden, lanjutnya, Jokowi bersumpah akan menjalankan kewajiban sebaik-baiknya, seadil-adilnya, memegang teguh konstitusi dan undang-undang selurus-lurusnya.

"Konstitusi itu kan Trisakti. Sementara dari era Soeharto sampai era SBY konstitusi kita sudah dibengkokkan. Sehingga keluarlah kata-kata Jokowi akan pentingnya mengangkat harkat martabat bangsa. Pentingnya membangun Indonesia sejahtera," tambah Noorsy.

Munculnya slogan Trisakti dari Jokowi adalah bentuk kesadarannya bahwa ada sesuatu yang sudah rusak, atau tak sesuai konstitusi. Dengan dia bersumpah menjalankan kewajiban presiden dengan berdasar konstitusi sekaligus menegakkan Trisakti, maka Noorsy percaya Jokowi punya tekad kuat untuk menumbuhkan itu.

"Orang-orang di Tim Transisi itu tidak bisa kita jadikan patokan karena mereka tidak punya posisi kunci. Saya masih melihat dan menunggu peluang sampai seberapa jauh dia menjalankan sumpahnya. Yang pasti inilah kesempatan untuk dia tidak serta merta membuat pernyataan yang cepat, tapi tidak efektif," tutup Noorsy. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Giliran ASN dan Pejabat Bea Cukai Diperiksa KPK

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:56

Usulan ATM MBG Bakal Dibahas di Komisi IX DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:40

UPDATE

Penanganan Kabupaten Terdampak Gempa NTT Terus Difokuskan Kemensos

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:21

KPK Ungkap Pengondisian Pembagian Kuota Haji 50:50 Sebelum MoU RI-Arab Saudi

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:16

BNPB Perkuat OMC Tangani Karhutla di Kalimantan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:02

Iran Pamerkan Pabrik Rudal Balistik Bawah Tanah

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:26

Pasukan Darat dan Water Bombing Dikerahkan Padamkan Karhutla Kalsel

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:21

KPK Usut Dugaan Korupsi PBJ Era Bupati Bogor Rudy Susmanto

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:13

Prabowo dan Jokowi Hadiri Pernikahan Kasespri Rizky Irmansyah di JCC

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:07

Desa Sade Terbakar, Ini Sejarah dan Asal-usul Masyarakat Suku Sasak

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:52

Ada Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026, Catat Jadwalnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:43

Karhutla Kalsel, Api Tak Terlihat tapi Gambut Masih Berasap

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:13

Selengkapnya