Berita

jokowi-jk/net

Politik

Di Amerika Serikat Pun Program 100 Hari Bukan Patokan

SENIN, 20 OKTOBER 2014 | 13:06 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Kalau pemerintahan Jokowi-JK ingin memberi kesan kepada publik bahwa mereka mampu bekerja serius untuk perubahan yang lebih baik, maka ada berbagai strategi komunikasi publik yang bisa digunakan meyakinkan masyarakat.

"Oleh sebab itu, hemat saya, ukuran yang lebih masuk akal adalah dengan memakai platform, rencana strategis, program jangka pendek, menengah, dan panjang," kata ilmuwan politik, Muhammad AS Hikam, lewat dinding facebook pribadinya, beberapa saat lalu.

Dengan ukuran itu, maka akan bisa dilihat dan dievaluasi kinerja Pemerintah dan aparatnya secara konkret, sistematis, dan bisa dipertanggungjawabkan secara transparan. Termasuk dalam hal ini, bagaimana presiden memberikan arahan kepada kabinetnya dan melakukan pengawasan yang efektif.


"Wahasil, omongan Denny JA soal ukuran 100 hari untuk menilai kemampuan dan atau keberhasilan Pemerintah Jokowi dan Kabinetnya perlu dikritisi dan tidak perlu dipandang sebagai kewajiban," tegasnya.

Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, di twitternya tadi pagi, mengatakan, ukuran Joko Widodo mampu bekerja sebagai presiden yang baik atau tidak akan terlihat dari dua hal. Pertama, figur-figur yang dia percaya duduk sebagai menteri. Kedua, prioritas progam kerja dalam 100 hari pertama. (Baca: Denny JA: Figur Menteri dan Program 100 Hari Ukuran Kemampuan Jokowi!).

"Itu hanya meniru apa yang populer di Amerika Serikat di mana para Presidennya biasanya punya agenda 100 hari. Tetapi di sana pun hal itu bukan ukuran untuk menilai secara objektif maupun politis keberhasilan mereka," ujar Hikam.

Publik Indonesia perlu mengkritisi gagasan dan praksis yang seolah menarik dan populer, tetapi kemudian salah terap dan malah kontraproduktif.

"Denny JA, sebagai tokoh yang berpengalaman akademis di AS dan memiliki pengaruh besar melalui lembaga kajian dan surveinya, mestinya mendidik bangsa ini dengan 'bener dan pener' (tepat)," seru Hikam. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya