Jarang-jarang anak buah terdekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melihat bosnya menangis.
Pemandangan langka itu terjadi ketika SBY usai menutup ajang Bali Democracy Forum (BDF) 2014 pekan lalu, yang jadi forum internasional terakhir SBY sebagai presiden.
Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Imelda Sari, adalah saksi bagaimana momen-momen SBY terharu di ujung kekuasaannya.
"Yang saya tahu, setelah acara BDF itu Beliau sangat terharu akan sambutan yang diterima. Saya tidak pernah lihat Bapak menangis, dan kali itu betul-betul menangis. Saat dilepas di tangga pesawat oleh Gubernur Bali dan istrinya, keduanya pun ikut menangis melepas Bapak," kata Imelda saat menghadiri dialog "Berpisah dengan SBY" di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (18/10).
Suasana kebatinan yang mengharukan usai BDF itu sangat dirasakan semua jajaran staf kepresidenan. Bahkan, Presiden SBY yang jarang memakai kacamata hitam pun, karena begitu terharunya, memakainya untuk menutupi kesedihan. Ada beberapa lagi suasana haru yang terasa ketika SBY mendapat perpisahan. Misalnya kemarin saat ia mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma usai perjalanan dinas.
"Atau misalnya, kemarin ada foto sesi terakhir para menteri dan istri, staf khusus dan istri dan para anggota dewan pertimbangan. Tetapi terasa sekali kelegaan Bu Ani (ibu negara) karena semua sudah selesai setelah 10 tahun ini," kenang Imelda.
Kini, SBY sedang mempersiapkan acara penyambutan presiden terpilih, Joko Widodo, di Istana Negara. Menurut Imelda, SBY terlihat sangat perfeksionis dalam menyambut presiden baru pada Senin mendatang. Kegiatan semacam ini tidak pernah dilakukan oleh presiden sebelum-sebelumnya.
"Diharapkan ini bisa dilakukan di pemerintahan selanjutnya. Jadi tradisi ini dibangun dengan suasana teduh , yang pergi dan yang datang bisa berkomunikasi dengan baik. Ini berdasar pengalaman Pak SBY yang tidak melihat hal serupa di transisi kepemimpinan sebelumnya," ujar Imelda.
[ald]