Berita

ilustrasi/net

Politik

Anas Paham Menyusun Kabinet Tak Segampang Ocehan Pengamat Politik

RABU, 15 OKTOBER 2014 | 01:28 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Urusan susun-menyusun Kabinet tidak hanya terkait isu profesionalitas, sebagaimana sering dibahas oleh media massa dan komentator atau pengamat politik.

Demikian diingatkan mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, yang walau mendekam di balik jeruji tahanan setelah divonis 8 tahun penjara terkait kasus Hambalang, namun masih melek akan ragam perkembangan politik terkini.

Dikutip dari akun twitter resmi Anas (@anasurbaningrum) yang diketik oleh Admin berdasar tulisan tangan yang diserahkan Anas kepada penasihat hukumnya pada Senin (13/10), politisi muda itu mengatakan bahwa ada hal-hal yang tak tampak dan kadang tidak elok dibahas, meski itu nyata dalam pertimbangan formasi kabinet


"Komposisi latar belakang agama bakal menteri biasanya menjadi salah satu pertimbangan. Latar belakang suku dan asal daerah juga tidak terhindarkan. Tidak mungkin ini diabaikan," terang Anas.

Latar belakang sipil dan militer lazimnya juga dipertimbangkan. Selain itu, komposisi berdasarkan isu gender juga tak terhindarkan.

"Tak elok Kabinet sepi perempuan," kata Anas.

Komposisi senior dan representasi kaum muda juga penting. Kalau terlalu banyak yang tua, tidak cocok dengan Presiden muda. Biasanya Presiden juga mempertimbangkan representasi ormas-ormas besar, seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah.

"Juga berbagai kelompok kepentingan, kelompok etnis, bahkan 'tim sukses' pemenangan pilpres. Belum lagi dengan isu respons pasar. Pasti Presiden menghitung apa reaksi pasar atas komposisi Kabinetnya," lanjut Anas.

Anas berharap Presiden dan Wapres terpilih (Jokowi-JK) dam para penyusun fomrasi kabinet bisa melahirkan Kabinet yang sesuai harapan, baik oleh dirinya sendiri maupun diharapkan oleh publik walau tidak mudah untuk memenuhi keduanya. [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya