Berita

Agung Laksono

Wawancara

WAWANCARA

Agung Laksono: Saya Ingin Teruskan Tradisi, Incumbent Tak Pernah Mencalonkan Jadi Ketua

SELASA, 30 SEPTEMBER 2014 | 09:31 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jika diberikan kepercayaan memimpin Partai Golkar, Agung Laksono berjanji hanya menakhodai partai berlambang pohon beringin itu hanya satu periode.

“Saya ingin meneruskan tradisi di Partai Golkar bahwa yang incumbent selama ini belum ada mencalonkan lagi menjadi ketua umum,’’ kata’Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Agung Lak­sono, kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta.

Untuk itu, lanjut Menko Kesra tersebut, jika terpilih menjadi Ke­tua Umum Partai Golkar dalam Munas awal 2015 mendatang, maka dirinya menyiapkan rege­nerasi.


“Harus memikirkan yang ter­baik selama memimpin Partai Gol­kar. Salah satunya menyiap­kan regenerasi yang tercermin dalam komposisi kepengurusan, tercermin dalam program dan kegiatan partai. Omong kosong kita bicara regenerasi tapi tidak menyiapkan orang-orangnya,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Apa strategi Anda untuk menangkan Pemilihan Ketua Umum Partai Golkar?
Tentu saya akan terus mela­kukan komunikasi dengan berba­gai pihak, termasuk pada orga­ni­sasi internal di Golkar. Misal­nya, Sentral Organisasi Karya­wan Swadiri Indonesia (SOKSI). Se­lama ini saya membina komu­nikasi dengan SOKSI.

Bagaimana jika ada orang lain yang mencalonkan dari SOKSI?
Tidak apa-apa. Saya tidak menganggapnya sebagai musuh yang harus dibinasakan. Kita berkompetisi secara sehat saja. Tidak perlu saling menjelek-jelekkan atau sampai tidak mau berbicara atau lainnya.

Bagaimana caranya me­rang­kul suara kader Golkar?

Dengan menggunakan pende­ka­tan-pendekatan yang sifatnya mau berkomunikasi dan membe­rikan atensi, itu lebih baik. Teru­ta­ma kita harus berikan dukungan moril. Ke depan perlu semangat baru yang ditumbuhkan.  

Seandainya menang, berapa komposisi pemuda dalam kepengurusan Anda?
Paling tidak 70-75 persen diisi oleh kader muda, sehingga rege­nerasi bisa terjadi. Seterusnya kepemimpinan cukup satu pe­riode saja dan digantikan oleh generasi berikutnya.

Kenapa tag line Anda kem­ba­likan kejayaan Golkar?

Memang Golkar pernah ber­jaya. Mungkin kejayaan itu ibarat grafik. Kadang naik, kadang menurun, sekarang grafik Golkar sedang menurun setelah itu kita harapkan naik tinggi. Sebab kita memiliki potensi kader yang cukup banyak, pengalaman dan kedepan tinggal diubah cara-cara kita. Mungkin kita harus bangun sistem dan menghargai sistem itu.

Anda dekat dengan Jusuf Kalla (JK), apa akan merapat?
Kalau saya dekat dengan Pak JK, apa itu suatu hal yang salah? Beliau mantan ketua Umum Par­tai Golkar dan teman saya. Berta­hun-tahun saya mengenal beliau. Tapi mengenai sikap politik ter­hadap isu politik bisa saja tidak ha­rus selalu sama. Jadi istilah me­rapat itu apa sih. Dalam pikiran saya pemerintah itu bukan sebuah musuh yang harus dibinasakan apalagi harus digulingkan, saya justru menganggap pemerintah sebagai mitra.

Artinya kalau program pemerintah membela rakyat wajib didukung?
Ya. Pemerintah itu mendapat mandat dari rakyat untuk menja­lankan roda pemerintahan 5 tahun ke depan. Kalau ada kebijakan yang bagus, sejalan dengan pro­gram pro rakyat, masak harus kita tentang. Itu kan harus kita dukung.

Sebaliknya kalau ada kebija­kan pemerintah yang tidak tepat, maka kita koreksi. Kalau ada yang bilang Partai Golkar di luar pemerintah atau sebagai partai penyeimbang, itu tidak masalah. Posisi penyeimbang itu harus konstruktif.

Apa JK back up Anda maju jadi ketum?
Saya kira beliau itu seorang negarawan, saya juga tidak mau menyusahkan Pak JK dalam pencalonan saya. Namun saya percaya beliau memiliki rasiona­litas yang tidak diragukan lagi. Bahwa saya mempersiapkan diri (jadi ketum) bukan sekarang ini, sejak 10 tahun lalu sudah saya persiapkan.

Biarlah Pak JK menjalankan tugas-tugasnya, tapi saya tetap menjaga komunikasi dengan be­liau. Meski dalam posisi apapun beliau tetap menyatakan sebagai kader partai Golkar. ***

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Penjualan LCGC di Dealer Naik, Kiriman dari Pabrik Justru Turun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:09

Putin-Prabowo Dijadwalkan Bertemu di Rusia pada 3 September

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:07

AHWA Pemilih Ketum PBNU Harus Bebas Konflik

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:40

Gegara Polis Dibatalkan, MSIG Life Hadapi Gugatan Rp20 Miliar

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:31

Kapolri Dorong Eks Anggota JI Jadi Mitra Polri Jaga Keutuhan NKRI

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:04

Gus Hans Minta AHWA Pilih Ketum PBNU Tanpa Intervensi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:45

Indonesia Desak OKI Ambil Langkah Nyata Hadapi Kejahatan Israel

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jadi Cara Kemensos Jemput Bola Putus Mata Rantai Kemiskinan

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:17

Pasar Mobil Nasional Capai Setengah Juta Unit Pada Semester I 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:46

Korut Rombak Jajaran Militer, Kim Song Gi Ditunjuk Jadi Menhan Baru

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:20

Selengkapnya