Berita

Refli Harun

Wawancara

WAWANCARA

Refli Harun: Setuju, Biaya Pilkada Perlu Dihemat Tapi Tetap Dilakukan Secara Langsung

MINGGU, 14 SEPTEMBER 2014 | 08:34 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemilihan kepala daerah secara langsung memang membebani keuangan negara. Tapi tetap diperlukan demi hak demokrasi rakyat.

“Saya setuju perlu dilakukan penghematan. Tapi bukan merubah sistem pilkada dari langsung menjadi tak langsung. Itu bertentangan dengan semangat reformasi dan memasung demokrasi,” kata pakar hukum tata negara, Refly Harun, kepada Rakyat Merdeka, Kamis (11/9).

Menurut Refly, ada banyak cara untuk menghemat biaya pilkada. Tapi jangan mengorbankan kedaulatan rakyat.


“Kita jangan setengah-setengah memperbaiki instrumen pilkada. Kalau pemilihan lewat DPRD berarti kita mundur,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda menilai seperti itu?
Pilkada tidak langsung bertentangan dengan sistem presidensil. Sebab, dalam sistem presidensil, eksekutif dan legislatif terpisah, bukan satu kesatuan.

Eksekutif tidak dipilih oleh legislatif. Makanya presiden tidak dipilih oleh MPR atau DPR.

Apa itu saja?
Pilkada tidak langsung, menempatkan DPRD lebih tinggi dari kepala daerah. Kemudian dijadikan kepala daerah sebagai sapi perahan DPRD.

Saat ini ada anggapan dalam pilkada langsung hanya orang yang bermodal yang bisa jadi kepala daerah. Itu tidak benar. 

Misalnya, Jokowi-Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta bukan bermodal besar.

Sekarang partai pendukungnya termenung karena tidak dapat proyek. Padahal di DKI Jakarta ini banyak proyek-proyek pembangunannya.

Pimpinan parpol diuntungkan dengan pemilihan tak langsung?
Ya. Karena sistem ini akan memunculkan fenomena elite captures. Selain itu, rakyat tidak bisa menentukan pemimpinnya. Penentuan kepala daerah akan terpusat pada pimpinan parpol. Bohong kalau nanti dengan pemilihan tidak langsung akan terpilih orang baik.
 
Ada 332 Kepala daerah yang tersangkut korupsi karena diduga biaya tinggi pilkada, ini bagaimana?
Itu keliru. Kepala daerah berniat melakukan itu karena  dari awal mau korupsi, bukan karena biaya tinggi.

Dipilih lewat DPRD pun banyak juga korupsi. Sebab, mereka harus siapkan dana untuk parpol dan dana pilkada berikutnya.

Solusinya bagaimana?

Solusinya sudah kami sampaikan ke Komisi II DPR kok. Kalau tetap mau pilkada tidak langsung, saya minta Presiden SBY menarik diri dari proses pembahasan.

Apa itu bisa membatalkan pengesahan RUU Pilkada?
Ya. Kalau SBY menarik diri dalam pembahasan RUU Pilkada maka RUU itu tidak bisa disahkan

Anda bilang banyak cara menghemat biaya pilkada secara langsung, apa saja itu?
Pertama, melakukan pilkada serentak. Pemilihan serentak ini bisa menghemat anggaran ketimbang harus melakukan pilkada satu per satu.

Kedua, memangkas jumlah pengawas. Selama ini, jumlah pengawas yang berada di tempat pemungutan suara memakan biaya banyak. Lantaran itu, cukup hanya dengan pengawasan dari masyarakat, partai politik, dan pemantau pemilu.

Ketiga, menyelenggarakan pilkada satu putaran. Suara terbanyak langsung dinyatakan sebagai pemenang.

Keempat, membatasi pengeluaran dana kampanye.  Kelima, membatasi modal kampanye.

Keenam, larangan sewa perahu parpol. Kalau datang ke parpol akan diperas. Ini bukan rahasia baru, sehingga yang dicalonkan hanya memiliki uang banyak. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya