Berita

haris rusly

Tak Dipilih Langsung, Siapa yang Berani Menyebut Muhammadiyah, NU, Nasdem, dan WALHI Fasis?

SELASA, 09 SEPTEMBER 2014 | 16:31 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sejumlah elemen masyarakat, baik organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, bahkan partai politik, menolak pemilihan kepala daerah lewat DPRD dalam RUU Pilkada yang saat ini sedang digodok DPR. Mereka menolak dengan berbagai alasan, misalnya  jalan mundur demokrasi di Indonesia bahkan disebut hak kedaulatan rakyat diamputasi.

Sementara Koordinator Petisi 28, Haris Rusly, mengingatkan jangan sampai demokrasi yang ada di luar negeri dipaksakan untuk diterapkan di Tanah Air.

"Kita tak usah bicara soal demokrasi berbusa-busa dengan mengacu pada tradisi yang pernah berkembang pada bangsa lain, di Athena (Yunani) misalnya," jelas Rusly dalam pesan singkatnya (Selasa, 9/9).


"Semestinya tata cara berdemokrasi itu berdiri di atas tradisi setiap bangsa dalam pengambilan keputusan untuk kemaslahatan bersama. Tak tepat bila dilakukan Amerikanisasi dalam cara-cara kita berdemokrasi," sambungnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, bila diperhatikan, praktek dan tradisi demokrasi perwakilan, musyawarah serta mufakat, telah berlangsung cukup lama di dalam masyarakat kita. Terutama dalam memilih pemimpin dan menetapkan keputusan yang dilakukan di setiap organisasi.

"Setiap periode kepemimpinan ormas & parpol, baik itu dua tahunan maupun lima tahunan, baik itu ormas agama, ormas pemuda-mahasiswa, parpol maupun LSM, menggelar pertemuan tingkat nasional, yang disebut Kongres atau Munas, untuk memilih pemimpin dan mengambil keputusan tertinggi," ungkapnya.

Di dalam acara Kongres atau Munas tersebut, tak seluruh anggota ormas atau parpol dapat menjadi peserta yang dilibatkan dalam memilih pemimpin.

Seluruh parpol dan ormas menerapkan mekanisme perwakilan atau utusan setiap cabang untuk menjadi peserta Kongres atau Muktamar, yang mempunyai hak untuk memilih pemimpin.

"Apakah kita berani mengatakan bahwa NU, Muhammadiyah, PGI, HMI, PMKRI, PMII, GMNI, PDI Perjuangan, Partai Golkar, Nasdem, AJI Indonesia, WALHI, KAMMI, KNPI, Repdem, HIPMI, Pepabri dan lain-lain adalah barisan organisasi yang menerapkan sistem yang tak demokratis & fasis, karena memilih pemimpinnya menggunakan mekanisme demokrasi perwakilan?" ungkap mantan PRD ini mempertanyakan.

Karena itu menurutnya, tak ada masalah dengan praktik demokrasi perwakilan yang akan diterapkan dalam memilih kepala daerah.

"Justru jika sistem pilkada langsung dilanjutkan penerapannya, maka kontraksi sosial akan makin parah, lantaran terjadi benturan antara tradisi yang hidup di dalam masyarakat dengan sistem negara yang menganut demokrasi ultra-liberal," tandasnya. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya