Berita

Jenderal Sutarman

Wawancara

WAWANCARA

Jenderal Sutarman: Tunggu 7 Hari, Kami Dukung Pemeriksaan Polisi Malaysia Terhadap 2 Anggota Polri

KAMIS, 04 SEPTEMBER 2014 | 10:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kapolri Jenderal Sutarman meminta semua pihak bersabar menunggu tujuh hari mengenai hasil pemeriksaan Polisi Malaysia terhadap dua anggota Polri, AKBP Idha Endri Prastiono dan Bripka MP Harahap.

“Kalau pemeriksaannya masih memerlukan perpanjangan wak­tu, ditambah tujuh hari lagi men­jadi 14 hari,” ujar Sutarman di Jakarta, kemarin.

Menurut orang pertama di Polri itu, dua anggotanya yang ditang­kap  Polisi Diraja Malaysia (PDRM) di Kuching, Sarawak itu be­­­lum tentu terkait jaringan narkoba.


Setelah nanti selesai pemerik­saan, lanjutnya, akan diketahui terlibat atau tidaknya dua anggota Polda Kalbar itu dengan tersang­ka Chusi, warga negara Filipina yang membawa barang bukti berupa 3,1 kilogram sabu yang di­tangkap di Bandara Internasio­nal Kuala Lumpur.

Berikut kutipan selengkapnya;

Bagaimana kalau terbukti?
Kalau ada kaitannya, kami menghormati hukum yang berla­ku. Silakan anggota kami dipro­ses secara hukum. Kami masih menunggu tujuh hari. Karena itu menurut Undang-Undang (UU) yang berlaku di Malaysia. Apa­bila tujuh hari masih di perlukan tambahan pemeriksaan maka bisa diberikan tujuh tambahan lagi, sehingga maksimal 14 hari. Se­telah itu baru nanti akan dipu­tuskan.

Yang jelas kedua anggota Pol­da Kalbar itu saat ditangkap da­lam keadaan tidak membawa ba­rang bukti. Selain itu, hasil tes urin keduanya pun dinyatakan ti­dak mengandung narkotika.
            
Apa tindakan hukum Polri terhadap kedua anggotanya itu?
Yang jelas bepergian atau ber­tugas keluar negeri tanda izin dari pimpinan merupakan tindakan yang ilegal. Itu salah, melanggar disiplin, maupun kode etik. Maka lihat perkembangan nanti saja.

Apa yang akan dilakukan Polri kalau terbukti keduanya terlibat jaringan narkoba?
Kami menghormati hukum yang berlaku di negara Malaysia itu. Sama ketika kami memerik­sa orang asing yang melakukan pe­langgaran pidana  di Indone­sia. Ke­mudian, itu diproeses, tentu ki­ta akan melakukan upa­ya-upaya.

Kami melihat barbuk (barang bukti) yang bersangkutan itu jauh. Yaitu di Kuching dan Kuala Lumpur. Kami akan membentuk tim advokasi dengan kedutaan luar negeri.

Narkoba masih bisa masuk lewat perbatasan, komentar Anda?
Polri sudah melakukan peme­taan begitu luas. Begitu banyak yang ditangkap Polri dan dihu­kum mati. Dari aspek hukum, sudah keras dan tegas sekali.

Lembaga Pemasyarakaatan (La­pas) sudah 60 persen dihuni pe­laku narkoba. Dari aspek pene­gakan hukum, Polri sudah luar biasa. Tapi saya kira penegakan hukum yang paling efektif itu adalah mencegah supaya tidak ada yang melanggar hukum.

Bagaimana cara Polri untuk mencegah  narkoba?
Persoalan ini merupakan tugas Polri dan seluruh instansi yang terkait. Karena Polri mempunyai fungsi pencegahan. Coba cek di lapas, yang penuh sesak itu dari nar­koba. Artinya penegakan hu­kum itu jalan.

Kemudian yang  dihukum mati juga sudah banyak. Tapi, itu tidak menimbulkan efek jera. Karena Narkoba masih ma­suk dan terus masuk. Sebab, de­mand dan kon­sumen itu masih mem­butuhkan. Itu yang harus di­pu­tus agar indonesia tidak men­jadi pasar narkoba.

Belakangan ini banyak mobil ‘bodong’ mewah kelia­ran di jalan raya,  komentar Anda?
Mobil-mobil yang beredar di jalan yang jelas harus ada surat dan pelat kendaraan. Tapi, mobi itu legal atau tidak, tentunya ada urusan lain. Bagaimana cara  ma­suknya, ke pabean, sehingga bisa masuk ke Indonesia.

Apa kendaraan tersebut sudah terdaftar di kepolisian?
Sudah terdaftarkan mendapat­kan nomor plat nomor. Ini masih dalam proses penyelidikan.  Ken­­daraan mobil yang ber­ken­dara di jalan raya itu harus pu­nya Surat Tanda Nomor Ken­­­­da­­raan (STNK) atau tan­da no­mor kenda­raan. Kalau ti­dak ada keduanya, maka dianggap telah melanggar lalu lintas. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya