Berita

ilustrasi

Bisnis

Pemerintah Dinilai Sering Meleset Menghitung Alokasi BBM Subsidi

Picu Antrean, Kapolri Minta Pembatasan BBM Tak Dilakukan Lagi
SELASA, 02 SEPTEMBER 2014 | 09:34 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah diminta tidak melakukan pembatasan BBM subsidi lagi. Soalnya, kebijakan itu akan mengganggu stabilitas keamanan nasional.

Kapolri Jenderal Sutarman mengatakan, pembatasan BBM subsidi mengakibatkan antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kondisi itu tentu mengganggu perekonomian Indonesia.

“Dengan adanya pembatasan BBM beberapa saat lalu menyebabkan antrean yang panjang. Ini pasti akan berdampak ke moneter ekonomi,” katanya di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, kemarin.


Antrean terjadi karena BBM di SPBU habis pukul 14.00 WIB. Padahal, biasanya habis pukul 20.00 WIB. Hal itulah yang menimbulkan antrean panjang.

Selain itu, bak seperti ekonom, Sutarman juga menilai pembatasan BBM bersubsidi akan memicu tingginya inflasi. Nah, ini yang menjadi tugas BI.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menegaskan, masalah kelebihan kuota BBM subsidi masih bisa dicari jalan keluar dengan membahasnya ke DPR.

Namun, kata dia, pembahasan soal penambahan kuota BBM subsidi saat ini yang hanya 46 juta kiloliter (KL) menjadi tanggung jawab pemerintahan dan DPR baru.

“Iya pemerintahan mendatang kan (mulai) November. Kalau Oktober masih tersedia kuota. Sampai November pun masih. Kalau misal penghematan berhasil, sampai Desember pun masih,” jelas Wacik.

Sebelumnya PT Pertamina (Persero) telah menghitung ada potensi kelebihan kuota BBM subsidi hingga 1,35 juta KL dengan nilai kurang lebih Rp 8 triliun, jika tak ada upaya penghematan atau pengkitiran (pemangkasan) kuota di SPBU-SPBU.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan, kelangkaan dan over kuota BBM subsidi terjadi hampir setiap tahun. Hal itu disebabkan pemerintah yang hanya mengira-ngira kebutuhan BBM subsidi setiap tahunnya.

“Pemerintah seperti peramal dalam menentukan kuota BBM subsidi. Alhasil, setiap tahun meleset,” katanya di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, kelangkaan dan ancaman over kuota tahun ini juga tidak terlepas dari gagalnya pemerintah menghitung kuota BBM subsidi.

Pada awalnya, kata Sofyano, pemerintah menetapkan kuota BBM subsidi 48 juta KL tahun ini, tapi dengan percaya diri (pede) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) diturunkan menjadi 46 juta KL.

Akibat kepedeannya itu, alokasi kuota BBM subsidi terancam tidak akan bisa menutupi sampai akhir tahun ini. Alhasil, menurut dia, pemerintah melakukan pengendalian dengan mengurangi kuota pom bensin untuk menghemat kuota BBM subsidi supaya cukup hingga akhir tahun.

“Pemotongan kuota yang dilakukan pemerintah tidak pernah memperhitungkan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang terus melonjak setiap tahunnya,” tegas Sekjen Asosiasi Penyalur Bahan Bakar Minyak Indonesia (APBBMI) ini.

Pertamina, lanjut Sofyano, selaku penyalur BBM subsidi tentu harus mengikuti keinginan pemerintah menjaga kuota BBM subsidi.  Nah, untuk menekan beban subsidi dalam APBN jika kuota BBM subsidi jebol lagi, pemerintah bisa mencari pemasukan lain. Salah satunya dengan menekan anggaran subsidi, yakni menjual harga minyak mentah produksi dalam negeri yang akan digunakan untuk produksi BBM dalam negeri di bawah harga internasional.

“Selama ini produksi minyak dalam negeri untuk BBM dalam negeri dijual masih menggunakan harga pasar,” tandasnya. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya