Berita

joko widodo/net

Politik

Jokowi dalam Kuasa JK, Megawati atau SBY?

RABU, 27 AGUSTUS 2014 | 15:10 WIB | OLEH: EMPIE ISMAIL MASSARDI

SETELAH para Hakim MK, 21 Agustus lalu, memutuskan menolak semua gugatan Prabowo-Hatta, atas nama hukum Jokowi-JK kini sah sebagai pemenang pilpres 2014 sesuai ketetapan  KPU.  

Jokowi-JK pun senang karena akhirnya mereka benar-benar bisa menjadi pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI ke-7. Tapi ternyata, kegembiraan politik itu rupanya cuma sesaat, Jokowi-JK kemudian harus memasuki ladang peperangan baru, pembentukan kabinet!

Pembentukan kabinet ini menjadi perang terbuka yang seru untuk ditonton, bahkan jauh lebih seru dari sidang gugatan Prabowo-Hatta di MK. Dalam proses pembentukan kabinet ini,  begitu banyak pihak yang merasa telah berjasa dalam memenangkan Jokowi-JK ingin juga turut dilibatkan.


Jokowi, sebagai Presiden pemilik hak prerogatif, bukan hanya pusing oleh JK, anggota koalisi partai pendukung tanpa syarat, para relawan dan pemodal yang kini meminta saham atas jasa mereka, melainkan juga karena minimnya dukungan parlemen.

Sebagai Presiden, Jokowi punya tugas berat. Yaitu, membagi-bagi  kekuasaan yang diperolehnya kepada para pihak dengan adil dan membajak partai dari koalisi Merah Putih guna memperkuat posisinya di DPR.

Namun di tengah serunya tarik ulur kepentingan, tiba-tiba ada agenda SBY bertemu Jokowi   di Bali, hari ini guna membicarakan berbagai hal guna memuluskan proses transisi pemerintahan SBY ke Jokowi sebagai alasan. Banyak pihak kemudian mengartikan bahwa pertemuan Bali ini sebagai ajang tawar menawar masuknya Demokrat ke dalam koalisi  Jokowi-JK.

Benarkah? Apakah  Megawati dan JK akan legowo jika kapal yang akan karam berlabuh?
Atau, bisa jadi memang SBY murni hanya ingin memberi nasihat perihal proses transisi dan masukan dalam pembentukan kabinet semata. Banyak nasihat yang mungkin akan diberikan SBY kepada Jokowi demi kelangsungan pemerintahannya kelak.

SBY, dengan bijak pasti akan  memberi nasihat kepada Jokowi untuk tidak menjadikan Golkar sebagai rekan  koalisi . Karena dengan melibatkan Golkar dalam pemerintahan, berarti Jokowi akan menjadikan JK sebagai "the real President".  Dan SBY pun kemudian dengan cermat  akan bercerita  mengenai pengalaman buruknya berpasangan dengan JK selama 5 tahun.

Jadi, menurut SBY, Jokowi lebih baik hanya menjadikan JK sebagai pembantu Presiden saja. Untuk itu, SBY akan membantu ARB tetap menduduki kursi Ketum Golkar hingga 2015 bahkan sampai 2019 kalau perlu.

Atau, kalau memang Jokowi tetap ngotot ingin mengambil partai anggota koalisi Merah Putih menjadi pendukung pemerintahannya, cukuplah PPP saja. Dengan masuknya PPP maka koalisi Jokowi-JK akan menjadi 46,5 persen lebih banyak dari koalisi Merah Putih yang kini tinggal 40,94 persen.

Bagaimana dengan PAN? SBY kemudian menjelaskan bahwa PAN lebih baik dan terhormat  ada di koalisi Merah Putih. Dan Demokrat? Bagi Demokrat netral adalah pilihan, sebagai penyeimbang, tidak di koalisi Merah Putih mau pun di pemerintahan. SBY kemudian memberikan jaminan kepada Jokowi bahwa Demokrat akan mendukung pemerintahan Jokowi  selama Jokowi meneruskan program-program yang telah dicanangkannya. Dan yang paling penting, pemerintahan Jokowi membiarkan SBY menikmati masa pensiunnya dengan damai.

Akhir cerita, Demokrat pun kemudian menjadi partai yang menentukan perjalanan bangsa Indonesia selama 5 tahun ke depan karena pemilik Jokowi sesungguhnya adalah SBY, bukan JK bukan pula Megawati!

Tapi, bila Demokrat, Golkar dan, PAN sungguh-sungguh dilibatkan dalam kabinet Jokowi maka Megawati pun perlahan akan tersingkir. Lantas Jokowi? Jokowi akan berubah jadi Pinokio!

Wallahu a’lam bish-shawabi!

Penulis adalah pengamat spiritual

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Trenggono Akui Pensiun Dini dari TNI Usai Ditunjuk Jadi Wakil Kepala BGN

Senin, 08 Juni 2026 | 16:24

Razia Balap Liar di Pinang Ranti, Brimob cuma Amankan Satu Sepeda Motor

Senin, 08 Juni 2026 | 16:18

Tujuh Advokat Gugat Otto Hasibuan di PN Balikpapan

Senin, 08 Juni 2026 | 16:05

Silmy Karim Diperiksa Perdana KPK dengan Tangan Diborgol

Senin, 08 Juni 2026 | 16:04

Said Iqbal Merapat ke Istana, Siap Dilantik Jadi Penasihat Presiden

Senin, 08 Juni 2026 | 16:03

Wadirut Pertamina Kunjungi Kilang Balongan Pastikan Operasional Berjalan Baik

Senin, 08 Juni 2026 | 15:57

Jangan Kaget Masalah Ijasah Palsu Tidak akan Selesai

Senin, 08 Juni 2026 | 15:55

KPK Panggil 4 Swasta Kasus Gratifikasi di Lingkungan MPR

Senin, 08 Juni 2026 | 15:47

Profil Shin Tae Yong, Tangan Dingin Penakluk Jerman yang Kini Membesut Persija

Senin, 08 Juni 2026 | 15:45

Nanik S Deyang Berkebaya Biru Jelang Dilantik Jadi Kepala BGN

Senin, 08 Juni 2026 | 15:35

Selengkapnya