Berita

Max Sopacua

Wawancara

WAWANCARA

Max Sopacua: Apapun Putusan MK, Kami Siap Berada Di Luar Pemerintahan

SELASA, 19 AGUSTUS 2014 | 09:50 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Partai Demokrat belum menentukan sikap untuk bergabung atau berada di luar pemerintahan bila Jokowi jadi presiden periode 2014-2019.

“Yang jelas, kami tidak akan berpaling dari koalisi merah putih yang mengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebelum ada putusan MK,’’ kata Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Max Sopacua kepada Rakyat Merdeka yang dihubungi via telepon, Minggu (17/8).

Seperti diketahui,  Ketua Umum Partai Demokrat SBY mengisyaratkan, partainya akan menjadi penyeimbang antara Jokowi dan Prabowo. Pernyataan itu diungkapkan SBY dalam sebuah wawancara yang diunggah ke Youtube, Kamis (7/8), lewat akun Susilo Bambang Yudhoyono.


”Saya berpikir partai politik yang saya pimpin lebih baik independen, lebih baik kami menjadi penyeimbang dan tidak masuk dalam koalisi permanennya Pak Prabowo maupun kubu Pak Jokowi,” ujar SBY.

Max Sopacua selanjutnya mengatakan, sebelum ada putusan partai secara resmi, pihaknya masih berada di barisan koalisi Prabowo-Hatta.

“Sejauh ini sikap Demokrat tetap berpatokan pada deklarasi 30 Juni 2014 lalu yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta. Keputusan itu sampai saat ini belum dicabut,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Beberapa hari lagi Mahkamah Konstitusi (MK) memutus sengketa pilpres, bagaimana sikap Demokrat?
Kita tunggu apa putusan MK. Jangan mempolitisir masalah ini.   

Belum ada opsi tentang arah koalisi yang akan diambil setelah MK memutus segketa pilpres?
Kami kan belum tahu hasil MK. Tapi apapun putusannya, kami siap berada di luar pemerintahan, menjadi partai penyeimbang.

Artinya, sikap Demokrat sejalan dengan instruksi SBY yang diunggah di Youtube?
Pernyataan Pak SBY di Youtube bukan instruksi. Instruksi dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Beliau baru menyatakan itu di Youtube, itu tidak bisa dipolitisasi.

Keputusan untuk menjadi partai penyeimbang belum final?
Sejak  30 Juni 2014, kami menyatakan mendukung Prabowo-Hatta. Namun, Pak SBY menyarankan agar kami netral saja. Kalau kami akan netral, artinya kami akan berada di luar pemerintahan. Meski belum ada keputusan DPP, kami akan mengambil posisi tersebut. Soal lainnya, beliau meminta kami menunggu putusan MK.

Kalau bersikap netral, bagaimana arah kebijakan Demokrat di parlemen?
Kita lihat nanti. Demokrat ini kan partai besar, dan berkuasa selama 10 tahun.
Apa yang saat ini dinikmati rakyat adalah hasil kerja keras pemerintahan Pak SBY. Itu yang perlu kami kawal.

Jangan samakan Demokrat dengan partai lain. Mereka (partai lain) kan nggak perlu kawal-kawal kebijakan, karena apa yang dijalankan oleh pemerintah bukan program mereka. Pak SBY meminta kami sebagai penyeimbang, berarti kami harus mengkritisi, ikut mengawal apa yang sudah dilakukan selama 10 tahun. Yang terpenting, kebijakan itu sejalan dengan apa yang sudah dilakukan.

Sejak awal berdiri, Demokrat belum pernah berada di luar pemerintahan, apa siap?
Dari mulai berdiri sampai saat ini, Demokrat adalah partai berkuasa. Kami nggak pernah jadi penyeimbang, karena kami menjalankan program. Ke depan, kami siap menjadi penyeimbang untuk mengawasi apa yang sudah dilakukan Demokrat selama ini. Kalau kebijakan itu sejalan, kami dukung. Kalau tidak, ya kami kritisi.

Apa Demokrat tidak membuka ruang untuk berkoalisi dengan PDI Perjuangan?
Kita lihat nanti. Sekarang kan kita belum tahu siapa pemenangnya. ***

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya