Berita

jokowi dan rizal ramli/rmol

Politik

Rumah Transisi Jokowi Adopsi Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Rizal Ramli

MINGGU, 17 AGUSTUS 2014 | 07:29 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Rumah Transisi yang didirikan Joko Widodo untuk mempersiapkan format pemerintahan baru mulai memperlihatkan tanda-tanda mengadopsi pikiran-pikiran ekonomi kerakyatan.

Termasuk pandangan yang kerap dilontarkan ekonom Rizal Ramli mengenai postur APBN yang sehat dan berorientasi kerakyatan. Salah satunya dengan memotong anggaran belanja rutin pemerintah pusat yang begitu besar di dalam APBN.

Dalam pidato pengantar RAPBN 2015 tanggal 15 Agustus yang lalu, Presiden SBY yang akan segera mengakhiri pemerintahannya mencanangkan belanja negara sebesar Rp 2.019,9 triliun. Dari angka ini, belanja pemerintah pusat dianggarkan sebesar Rp 1.379,9 triliun.


Kantor Transisi Jokowi sedang mengkaji RAPBN ini. Menurut Anies Baswedan, salah seorang deputi di kantor yang dipimpin Rini M. Soemarno itu, bukan tidak mungkin mereka akan memangkas sejumlah mata anggaran yang dinilai terlalu besar demi penghematan, terutama anggaran perjalanan dinas.

“Mudah-mudahan bisa ada beberapa pengurangan. Terutama yang rutin- rutin… seperti perjalanan dinas," kata Anies.

Deputi lain di kantor itu, Andi Widjajanto juga menyampaikan pandangan yang sama.

Disebutkan bahwa Rumah Transisi akan membahas APBN 2015 dalam pertemuan siang ini (Minggu, 17/8). Sementara pada hari Senin besok (18/8) sejumlah pakar akan diudang untuk memberikan pandangan.

Selama ini, ekonom yang paling sering menyampaikan kritik secara terbuka mengenai postur APBN pemerintahan SBY adalah Rizal Ramli.

Ketika berbicara di depan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sedunia dalam seminar internasional mengenai kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, di Bangkok, Thailand, tahun lalu misalnya, Rizal Ramli mengatakan bahwa APBN pemerintahan SBY setiap tahun memperlihatkan tanda-tanda menjauh dari kepentingan rakyat.

Seminar internasional di Universitas Thammasat itu juga dihadiri Anies Baswedan yang ketika itu sedang mengikuti Konvensi Presiden Partai Demokrat. Adapun Rizal Ramli di saat bersamaan tengah mengikuti Konvensi Presiden Rakyat.

Rizal Ramli yang pernah menjadi menteri keuangan dan menko perekonomian itu mengatakan, semestinya dengan APBN 2014 sebesar lebih dari Rp.1.800 triliun banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk kepentingan rakyat, terutama dalam hal peningkatan kualitas SDM.

Sayangnya, anggaran sebesar itu justru lebih banyak dialokasikan untuk membiayai birokrasi secara berlebihan. Anggaran perjalanan dinas di tahun 2013, kata dia sebagai contoh, mencapai angka Rp 23 triliun. Sementara pembangunan sektor pertanian hanya Rp15,5 triliun. Padahal 40 persen rakyat hidup di sektor pertanian.

Ketika SBY baru berkuasa, biaya perjalanan dinas dalam APBN hanya sebesar Rp 4 triliun. Sementara di tahun 2014 berlipat delapan kali menjadi Rp 32 triliun.

Ketika Rizal Ramli masih menjadi menteri di era Abdurrahman Wahid, biaya perjalanan dinas hanya sebesar Rp 2,5 triliun.

Nah, seperti pemerintah pusat, sambung Rizal Ramli, sebagian besar pemerintah daerah juga mengalokasikan 70 persen APBD untuk membiayai eksekutif dan DPRD.

Dari 420 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, menurut dia, memang ada kepala daerah yang berhasil membangun daerah karena menjalankan politik anggaran yang pro rakyat. Tetapi, jumlah kepala daerah seperti ini kurang dari 30 orang. [dem]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya