Berita

Audit Harga Solar ke PLN Menyesatkan

JUMAT, 15 AGUSTUS 2014 | 22:05 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Pemerintah harus membuat keputusan yang tegas dan mengikat terkait peruntukan penggunaan solar bagi PLN dari Pertamina. Pengamat energi Sofyano Zakaria mengatakan perlunya membedakan penggunaan solar bagi keperluan listrik khusus untuk pengguna kelompok yang perlu disubsidi berukuran 450va dan 900va, dengan solar yang dipergunakan untuk keperluan pembangkit listrik yang dominant  bagi golongan mampu termasuk industri.

 "Artinya, harus ada audit penggunaan solar pada PLN yang membedakan penggunaan bbm solar bagi operasional untuk listrik bagi kelompok pengguna dengan daya 450va dan 900 va dengan kelompok pengguna dengan daya diatas  900VA atau kelompok mampu termasuk Industri," papar Sofyano mengomentari polemik harga solar Pertamina untuk PLN, dalam keterangan persnya (Jumat, 15/8).

Selain itu, kata dia, subsidi Pemerintah terhadap PLN juga perlu dievaluasi dengan cermat atau dikaji ulang apakah sudah sejalan dengan kenaikan Tarif Daya Listrik. Sebab, adanya kenaikan TDL logikanya harus diikuti dengan berkurangnya subsidi Pemerintah terhadap PLN.


Sementara itu, lanjut Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) ini, hasil audit terhadap peruntukan penggunaan bbm solar  PLN bisa dijadikan salah satu referensi dalam menentukan besaran harga beli solar oleh PLN. PLN tidak dapat menenentukan harga beli solar dari Pertamina sesuai dengan  yang mereka inginkan karena dengan  pertimbangan bahwa solar tersebut dominan dipergunakan untuk pembangkit yang produksinya dominant pula untuk golongan tidak mampu yang harus disubsidi, maka ini akan bisa dimaklumi oleh siapapun termasuk Pertamina sebagai persero milik Negara.

"Bagi publik , akan terasa sangatlah aneh dan tidak "fair"  jika solar yang akan dibeli PLN dengan harga yang tidak sesuai dengan harga keekonomian, namun ternyata solar tersebut dipergunakan untuk Pembangkit listrik yang produksi listrik nya dijual untuk kebutuhan golongan mampu dan industri yang kenyataannya tidak termasuk golongan yang perlu disubsidi oleh pemerintah," papar dia.

Terkait audit harga solar yang ditawarkan Pertamina ke PLN, menurut Sofyano, tidak diperlukan. Audit tersebut pada dasarnya merupakan bentuk ketidak percayaan PLN terhadap harga yang ditawarkan Pertamina. Publik juga bisa menilai bahwa audit tersebut  sebagai cara untuk membuktikan ke publik bahwa harga solar Pertamina  diluar batas kewajaran jika hasil audit yang dilakukan lembaga audit ternyata lebih rendah  dari harga yang ditawarkan Pertamina.

"Ini harusnya dihindari oleh pihak PLN," pungkasnya.[dem]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya