Berita

Sabam Sirait

Wawancara

WAWANCARA

Sabam Sirait: Kabinet Baru Perlu Political Skill Karena Berinteraksi Dengan DPR

SENIN, 11 AGUSTUS 2014 | 10:31 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Politisi senior PDI Perjuangan Sabam Sirait meminta capres terpilih Jokowi membentuk kabinet yang ramping demi mengatasi berbagai persoalan.

“Tidak perlu ada menteri koordinator (menko) dan wakil menteri. Kabinet mendatang cukup diisi 17 menteri. Dirjen ditambah. Sebab, sejumlah kementerian bisa digabungkan,” ujar Sabam Sirait kepada Rakyat Merdeka, yang dihubungi via telepon, Jumat (8/8).

Menurut anggota Dewan Pertimbangan PDI Perjuangan itu, perampingan kabinet mutlak diperlukan agar kinerja eksekutif berjalan maksimal.


“Yang terpenting adalah menteri yang dipilih menguasai bidangnya. Punya leadership yang kuat, manajemen yang kuat, kompetensi yang kuat, dan yang paling penting orangnya bersih,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Berarti orangnya profesional di bidanganya?
Ya. Tapi  tidak akan ada dikotomi kalangan profesional tersebut berasal dari partai atau nonpartai.  Kabinet Jokowi-JK harus diisi orang-orang profesional yang memiliki kemampuan politik tinggi. Menteri yang berasal dari kalangan partai harus punya kemampuan politik yang teruji, karena mereka akan berinteraksi dengan para anggota dewan.

Political skill itu perlu. Kalau tidak punya political skill akan sulit, karena harus berurusan dengan mitra kerjanya di DPR. Bisa ditolak terus kebijakannya. Ke depan, Dirjen tidak boleh dimintai pertanggungjawaban oleh DPR, itu ngawur. Dia bertanggung jawab kepada menterinya.

Sebagai sesepuh PDI Perjuangan, apa Anda diajak membahas masalah kabinet?
Tidak. Itu kewenangan mereka (Jokowi-JK). Saya mendegar, mereka mau merampungkan kabinet dan mengisinya dengan orang-orang profesional. Saya mendukung gagasan itu.

Indonesia butuh kabinet kerja yang ramping agar dapat berkomunikasi dengan leluasa.
 
Kementerian apa saja yang tidak diperlukan dalam kabinet mendatang?
Saya melihat, Kementerian PDT dan Perumahan Rakyat tidak diperlukan. Tugas dua kementerian itu bisa digabung dalam Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Tapi dirjen-nya diperbanyak. Itu sudah cukup. Tidak perlu pakai wakil menteri.

Jika kementerian yang digabungkan, tugas menteri akan semakin banyak, apa mereka mampu?
Kalau tidak mampu, nggak usah menerima tawaran posisi menteri dong. Kita sudah terlalu jauh tertinggal. Sekarang waktunya bekerja keras.

Makanya, menterinya jangan serakah atau berusaha menyelesaikan semua persoalan. Mereka kan punya dirjen. Beri para profesional itu kewenangan, kemudian dia koordinasikan. Mereka kan tim-tim ahli yang ditugaskan untuk membantu sang menteri.
 
Menteri apa saja yang masih diperlukan?

Seperti yang saya sampaikan tadi, kabinet Jokowi-JK cukup diisi 17 menteri. Sejak awal, mereka kan bilang mau membangun kabinet kerja yang berisi profesional. Realisasikan janji itu. Jangan sampai ada kesan bagi-bagi kekuasaan.

Soal menteri-menteri yang dibutuhkan di antaranya, menteri luar negeri, menteri dalam negeri, itu bidang politik. Kalau bidang ekonomi, menteri keuangan, perdagangan, perindustrian.

Di bidang Polhukam, menteri yang ada saat ini masih relevan, ditambah dengan menteri komunikasi. Sebab, saat ini arus informasi sudah menjadi bagian dari ketahanan nasional. Namun, tidak perlu ada menko. Mereka kan nggak ada kerjaannya. Para menteri itu bisa berkomunikasi langsung dengan presiden, nggak perlu perantara.
 
Apa perampingan berbanding lurus dengan efektifitas kinerja kabinet?
Ya dong. Kalau kita ibaratkan seorang gadis, Anda lebih suka yang ramping kan? He..he..he. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya