Berita

Ingat, SBY juga Minta Masukan Publik Saat Susun Kabinet

JUMAT, 08 AGUSTUS 2014 | 05:38 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kalau sudah ditetapkan sebagai Presiden terpilih, Joko Widodo berhak sepenuhnya menyusun kabinet, termasuk apabila dengan cara meminta masukan dari masyarakat luar seperti dilakukan saat ini.

"Jadi, tidak perlu diributkan apa yang dilakukan itu," ungkap Presiden SBY menjawab pertanyaan presenter saat dialog "Isu Terkini dan Respons Presiden SBY" dalam video yang diunggah di akun Twitternya, Kamis malam (7/8).

SBY mengungkapkan, sewaktu dia menyusun kabinet sebenarnya juga mendengarkan pandangan dari masyarakat. Meski memang tidak terbuka dan tidak diumumkan. "Apa yang saya dapatkan, banyak sekali usulan, rekomendasi dan permintan dari masyarakat luar," jelas dia.


Dalam kesempatan itu, SBY juga membeberkan bahwa pada saat akan menentukan calon wakil presiden yang akan digandeng pada Pilpres 2009 lalu, dia juga meminta pandangan masyarakat.

"Ada lagi contoh yang baik. Sebelum saya mengambil keputusan siapa cawapres yang mendampingi saya dulu pada pilpres 2009, saya mengapungkan tiga nama," imbuh SBY.

Saat itu, SBY meminta sebuah lembaga survei yang kredibel untuk melakukan survei atas ketiga nama tersebut. Survei itu dilaksanakan secara luas, baik untuk masyarakat secara keseluruhan atau pun para opinion leader.

"Dari situ saya tahu, mana yang paling disukai oleh rakyat kita, tentu dengan kriteria yang saya tetapkan sendiri. Itu pengalaman saya," tekannya.

Nah, kalau sekarang Jokowi juga meminta masukan dari masyarakat dalam menyusun kabinet, kata SBY menambahkan, tentu harus dihormati. Cuman, Jokowi harus siap menghadapi kalau ada masyarakat yang komplain karena misalnya calon yang direkomendasikan tidak masuk dalam kabinet.

"Pak Jokowi pada saatnya harus bisa menjelaskan kenapa harus memilih si A, bukan si B. Itu konsekuensi dari apa yang terjadi sekarang. Karena masyarakat diundang untuk memberikan masukan bahkan (diundang, red) untuk ikut memilih," pungkasnya. [zul]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya