Berita

ilustrasi/net

Fitnah dalam Pilpres Benar-benar Mengotori Demokrasi

KAMIS, 03 JULI 2014 | 23:11 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Entah mengapa berbagai fitnah dalam Pilpres belakangan ini semakin massif. Fitnah itu misalnya menyebut Jokowi Kafir, agen asing, munafik, hingga agen komunis.

Tentu saja hal ini disesalkan oleh aktivis pro-demokrasi, Ray Rangkuti. Sebab fitnah ini jelas-jelas mengotori demokrasi yang kini sedang terus diperjuangkan.

"Para pembuat fitnah bukan saja tidak malu, tak belajar dari kegagalan, bahkan sebenarnya mengotori demokrasi. Uniknya, mereka memakai demokrasi untuk menghancurkannya dari dalam," kata Ray, yang merupakan Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, beberapa waktu lalu (Kamis, 3/7).


Lebih disayangkan lagi, pihak yang menghembuskan fitnah justru tak pernah meminta maaf tetapi malah memunculkan fitnah baru. Ray pun mengaku tak habis pikir dengan pihak yang memunculkan fitnah di pilpres.

"Apa yang ada di hati dan akal mereka sebenarnya? Tidakkah cukup bagi para pemitnah itu berhenti pada satu kesimpulan bahwa tidak mungkin dalam diri yang satu bergabung sekaligus semua keburukan. Ya, kafir, ya munafik, ya agen asing dan sekaligus PKI," kata Ray.

Ray pun memberi perhatian pada pemberitaan Tv One yang dimiliki Aburizal Bakrie yang sekarang menjadi ketua partai yang didirikan dan dibesarkan Soeharto. Ray pun mengingatkan, efek negatif pada kemanusiaan Indonesia akibat stigma tanpa dasar di era  rezim Orde Baru.

"Ratusan ribu orang Indonesia tanpa proses persidangan dirampas haknya secara ekonomi, politik, dan sosial hanya karena distigma sebagai PKI. Apakah pola-pola seperti ini lagi yang mau dipergunakan?" ucap Ray, sambil mengingatkan agar Komisi Penyiaran Indonesia dan Dewan Pers bertindak dalam kasus TV One itu. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya