Berita

nusron wahid/net

Ketua Umum GP Ansor: Naif, Gunakan Tuduhan Komunis untuk Hambat Jokowi-JK

KAMIS, 03 JULI 2014 | 07:18 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Selain menyakitkan, menuduh manusia modern Indonesia yang berbeda pendapat, dengan sebutan komunis juga tidak lagi relevan karena saat ini sudah terjadi pembauran kultural yang luar biasa. Secara geneologis, dulu, mungkin memang ada keluarga yang diasosiasikan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tapi manusia Indonesia hari ini sudah tidak mengenal istilah itu.

"Banyak cucu aktivis PKI, yang jadi santri bahkan jadi kyai. Sebab ideologi itu sudah lama hilang dan tidak laku dalam kontek demokratisasi," kata Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 3/7).

Nusron mencatat, Eropa Timur saja sudah sangat demokratis, dan komunisme sudah lama mati. Sementara di Tiongkok, praktek komunisme hanya dilakukan dalam sektor politik, sebab secara ekonomi Tiongkok juga sudah sangat liberal.


"Terus apa relevansinya zaman begini menuduh orang yang berbeda politik dengan komunis? Tuduhan komunis juga sama menyakitkannya setiap ada gerakan keagamaan yang berbeda dengan maisntream dianggap NII, DI/TII dan sebagainya," jelasnya.

Jadi, menurut Nusron, cara-cara politik adu domba dengan tudingan komunis sebenarnya hanya karena untuk menghambat laju elektabilitas Jokowi-JK dengan sebutan komunis. Padahal, dengan cara-cara mengadudomba seperti itu, justru dipertanyakan.

"Yang komunis itu yang suka adu domba. Menghalalkan segala cara. Menuduh orang Kristen padahal muslim. Menuduh keturunan China, padahal Jawa asli. Justru inilah watak-watak dan kelakuan komunis sejati," ujarnya.

Sebenarnya, kata Nusron, di antara anak-anak korban kekerasan politik baik PKI, DI/TII, sudah sama-sama melupakan masa lalu, bahkan membuat forum rekonsiliasi anak bangsa. Mereka, seperti keluarga Banser dan kelaurga mantan PKI,  sama-sama menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran, dan kini sudah menatap masa depan yang lebih baik. Bahkan ada juga sebagian anak-anak bekas PKI yang diambil menjadi anak angkat dan menjadi warga NU dan Ansor dengan baik dan soleh.

Nusron mempertanyakan, pernyataan yang menyebut komunis hanya gara-gara Jokowi menggunakan sebutan Revolusi Mental. Pernyataan ini sangat naif, senaif menuduh pasukan Thaliban hanya gara-gara menggunakan istilah dalam bahasa Arab.

"Memang mental dan akhlak bangsa Indonesia sudah rusak. Orangnya baru, tapi gaya, cara berpikir dan bertindak masih gaya lama. Mental seperti ini memang harus direvolusi. Terus kalau revolusi mental saya ganti bahasa Arab tazkiyatunnafsi, kemudian menjadi Islami? Sungguh naif," demikian Nusron. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya