. Selain menyakitkan, menuduh manusia modern Indonesia yang berbeda pendapat, dengan sebutan komunis juga tidak lagi relevan karena saat ini sudah terjadi pembauran kultural yang luar biasa. Secara geneologis, dulu, mungkin memang ada keluarga yang diasosiasikan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tapi manusia Indonesia hari ini sudah tidak mengenal istilah itu.
"Banyak cucu aktivis PKI, yang jadi santri bahkan jadi kyai. Sebab ideologi itu sudah lama hilang dan tidak laku dalam kontek demokratisasi," kata Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 3/7).
Nusron mencatat, Eropa Timur saja sudah sangat demokratis, dan komunisme sudah lama mati. Sementara di Tiongkok, praktek komunisme hanya dilakukan dalam sektor politik, sebab secara ekonomi Tiongkok juga sudah sangat liberal.
"Terus apa relevansinya zaman begini menuduh orang yang berbeda politik dengan komunis? Tuduhan komunis juga sama menyakitkannya setiap ada gerakan keagamaan yang berbeda dengan maisntream dianggap NII, DI/TII dan sebagainya," jelasnya.
Jadi, menurut Nusron, cara-cara politik adu domba dengan tudingan komunis sebenarnya hanya karena untuk menghambat laju elektabilitas Jokowi-JK dengan sebutan komunis. Padahal, dengan cara-cara mengadudomba seperti itu, justru dipertanyakan.
"Yang komunis itu yang suka adu domba. Menghalalkan segala cara. Menuduh orang Kristen padahal muslim. Menuduh keturunan China, padahal Jawa asli. Justru inilah watak-watak dan kelakuan komunis sejati," ujarnya.
Sebenarnya, kata Nusron, di antara anak-anak korban kekerasan politik baik PKI, DI/TII, sudah sama-sama melupakan masa lalu, bahkan membuat forum rekonsiliasi anak bangsa. Mereka, seperti keluarga Banser dan kelaurga mantan PKI, sama-sama menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran, dan kini sudah menatap masa depan yang lebih baik. Bahkan ada juga sebagian anak-anak bekas PKI yang diambil menjadi anak angkat dan menjadi warga NU dan Ansor dengan baik dan soleh.
Nusron mempertanyakan, pernyataan yang menyebut komunis hanya gara-gara Jokowi menggunakan sebutan Revolusi Mental. Pernyataan ini sangat naif, senaif menuduh pasukan Thaliban hanya gara-gara menggunakan istilah dalam bahasa Arab.
"Memang mental dan akhlak bangsa Indonesia sudah rusak. Orangnya baru, tapi gaya, cara berpikir dan bertindak masih gaya lama. Mental seperti ini memang harus direvolusi. Terus kalau revolusi mental saya ganti bahasa Arab
tazkiyatunnafsi, kemudian menjadi Islami? Sungguh naif," demikian Nusron.
[ysa]