Berita

nusron wahid/net

Ketum GP Ansor: Fahri Hamzah Tak Paham Sejarah Islam!

SELASA, 01 JULI 2014 | 00:22 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Tanggal 1 Muharram merupakan hari yang sangat sakral bagi umat Islam karena ada momentum hijrah. Tentu saja hijrah itu tidak hanya dimaknai simbolik dari Mekkah menuju Madinah, melainkan juga secara substantif yaitu hijrah dalam pengertian Revolusi Mental.

Demikian disampaikan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid. Pernyataan Nusron ini terkait dengan pernyataan Fahri Hamzah yang menyebut Jokowi sinting dalam akun twitternya karena menyetujui penetapan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional.

"Fahri itu orang yang tidak tahu dan memahami sejarah Islam," kata Nusron, Senin malam (30/6).


Nusron menjelaskan, usulan para kyai dan santri yang diamini Jokowi, yang akan menjadikan 1 Muharram sebagai hari santri itu merupakan momentum hijrah menuju akhlakul karimah bangsa Indonesia yang dipelopori para santri. Hal ini sebagaimana dulu para santri KH Hasyim Asy'ari memelopori perang melawan sekutu pada 10 November, kemudian dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

"Kalau gagasan itu dianggap sinting, berarti yang menganggap sinting, berarti bahlul dan sontoloyo, dan tidak bisa memaknai hijrah dalam kontek santri di Indonesia," sindirnya.

Bagi Nusron, Jokowi justru lebih baik karena menebar kebaikan-kebaikan yang sifatnya inspiratif seperti hari santri, Hari Inovasi Nasional, Hari Buruh dan sebagainya, daripada menebar janji kekuasaan dan kursi menteri kepada semua pendukungnya.

"Fahri adalah teman dan sahabatnya saya. Cuma karena ide ini dilontarkan Jokowi calon presiden yang tidak dia dukung, mungkin saja dia sewot dan jealous. Janganlah di bulan puasa menilai gagasan orang dengan kebencian. Lebih baik banyak ngaji di bulan puasa," ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, tidak mengakui hari santri, berarti sama saja tidak mengakui peranan santri dalam menciptakan character and national building bangsa Indonesia, yang nasionalis, religius dan ber-akhlaqul karimah. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya