. Membaca al Quran sudah menjadi kebiasaan sehari-hari Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad H Wibowo. Biasanya ia membaca al Quran di pagi hari, atau saat berada di mobil. Di bulan Ramadhan, sebagaimana Ramadhan sebelumnya, Dradjad menambah waktu dengan membaca al Quran usai shalat Ashar.
Bagi Dradjad, tidak ada target berapa juz harus dituntaskan dalam sehari. Sebab yang pasti, tilawah sudah menjadi kebiasaannya sejak lama. Hal paling penting baginya, kuantitas membaca al Quran harus lebih besar dibandingkan membaca koran.
"Apalagi menjelang Pilpres ini, saya jarang baca koran. Sebab korannya unik-unik. Itu pun paling saya baca judulnya saja," kata Dradjad, yang meraih gelar master of science di bidang ekonomi serta doktor economathematic dari University of Queensland, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 30/6).
Untuk menu sahur dan buka, Dradjad lebih mengutamakan buah-buahan. Hanya ada tambahan air kelapa saat berbuka. Karena di hari biasa juga makan dua kali, maka bulan Ramdahan ini bagi Dradjad hanya menggeser waktu saja; dari sarapan pukul 07.00 menjadi waktu sahur, dan dari makan sore pukul 17.00 menjadi mundur ke maghrib.
Sudah bertahun-tahun, Dradjad selalu memotong setengah kegiatan duniawi bila Ramadhan tiba. Mungkin perbedaannya saat ini, ia sedikit lebih mengurus pilpres. Namun yang pasti, biasanya ia sudah berada di rumahnya yang berada di Bogor, pada pukul 15.00 sore.
Dradjad pulang lebih awal karena dua alasan. Pertama, ia mengutamakan berbuka dengan keluarga, dan lebih sering menolak undangan buka puasa bersama atau kegiatan lain yang dilakukan setelah ashar. Dalam sebulan, tak lebih dari tujuh kali ia ikut undangan di luar itu. Alasan kedua, Dradjad juga mengisi ceremah di beberapa masjid, khususnya ceramah di sela-sela shalat tarawih.
"Kalau tidak harus jadi imam shalat tarawih di luar, saya memimpin shalat tawarih di rumah bersama dengan istri dan anak-anak," ungkap Dradjad.
Dalam kesempatan ini, Dradjad berpesan, sebagaimana sering ia sampaikan saat mengisi khutbah Idul Fitri, agar umat Islam mewujudkan kesalehan ritual menjadi kesalehan sosial. Sehingga ke depan, misalnya, tidak ada umat Islam yang korup.
"Selalu saya sampaikan, mengapa sudah beberapa kali memperoleh kemenangan, apalagi yang sudah berusia 50 tahun, mungkin sudah memperoleh kemenangan 45 kali. Tapi kenapa korupsi, kemiskinan, kebodohan masih ada di negara ini. Ini tugas umat Islam untuk mewujudkan kesalehan ritual menjadi kesalehan sosial," demikian Dradjad.
[ysa]