Berita

Nusyirwan Soejono/net

Politik

Jokowi Harus Jadi Presiden karena Bawa Harapan Baru Ekonomi Indonesia

KAMIS, 26 JUNI 2014 | 19:25 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Jokowi membangkitkan harapan baru perekonomian Indonesia. Inilah salah satu alasan mengapa Jokowi harus menjadi Presiden Indonesia.

Harapan ini, kata Politisi PDI Perjuangan, Nusyirwan Soejono, terlihat jelas dalam berbagai keputusan dalam proses pilpres. Misalnya, saat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberi mandat kepada Jokowi untuk menjadi capres, indeks harga saham gabungan (IHSG) langsung naik. Di saat yang sama, mandat ini juga membuat nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS.

"Jadi Jokowi-JK harus sukses di Pilpres 9 Juli 2014 nanti. Ini untuk menghindari kejatuhan nilai rupiah. Kemarin nilai tukar sudah tembus Rp 12 ribu per dolar AS," kata Nusyirwan beberapa saat lalu (Kamis, 26/6).


Menurut Anggota Komisi Infrastruktur DPR ini, kondisi makro ekonomi saat ini akan menyulitkan pemerintahan SBY merealisasikan target-target sesuai nota keuangan yang disodorkan saat menyampaikan Nota Keuangan RAPBN 2014 tahun lalu. Saat ini saja sudah terjadi berbagai pemotongan anggaran untuk berbagai program yang sebenarnya sudah dianggarkan di APBN.

Selain itu, lanjutnya, saat ini nilai tukar rupiah sudah melampaui asumsi APBN-P yang dipatok Rp 11.600 per dolar AS. Pelemahan rupiah diperkirakan akan menimbulkan defisit anggaran semakin besar dan menganggu kemampuan pembiayaan pemerintah maupun swasta dalam membayar pinjaman dalam bentuk USD.

Namun demikian Nusyirwan tetap berharap persoalan ekonomi saat ini tidak menimbulkan beban bagi pemerintahan mendatang.  

"Semoga hasil Pilpres membawa harapan, bukanya membuat keadaan menjadi krisis," ungkap Nusyirwan.

Menurut Menteri Keuangan M Chatib Basri ada tiga faktor yang membuat kurs rupiah melemah. Yaitu situasi politik di Indonesia yang masih belum stabil menjelang pemilihan presiden; neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit; dan geopolitik di Irak yang menyebabkan gejolak harga minyak dunia. [rus]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya