Berita

park geun-hye/net

Dunia

Presiden Korsel Tahan Perdana Menterinya untuk Mundur

KAMIS, 26 JUNI 2014 | 13:17 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Korea Selatan Park Geun-hye menolak pengunduran diri Perdana Menteri Chung Hong-won pada Kamis (26/6).

Park meminta Chung untuk bertahan di posisinya setelah dua orang kandidat penggantinya secara berturut-turut mengundurkan diri.

Keputusan untuk mempertahankan Chung yang mengundurkan diri sejak dua bulan lalu pasca tragedi tenggelamnya kapal feri Sewol itu memicu kekhawatiran atas kemampuan Park untuk melakukan reformasi pemerintahan.


"Fakta bahwa Perdana Menteri yang telah menawarkan pengunduran diri kembali bertahan di posisinya berarti sulit melihat janji-janjinya (Park) dipenuhi," kata salah seorang pengamat politik Rhee Jong-hoon.

Diketahui, pasca tragedi Sewol, pemerintah Park mendapat kritik dari masyarakat Korea Selatan karena dinilai lambat dan tidak kompeten dalam menangani bencana tersebut. Sejak saat itu Park mengumumkan rencana untuk melakukan reformasi birokrasi dan  pemerintahannya demi menarik kembali kepercayaan publik.

Sementara itu Perdana Menteri Chung mengundurkan diri dari jabatannya tak lama setelah tragedi tersebut terjadi. Pengunduran dirinya itu dilakukan karena ia merasa bertanggungjawab atas jatuhnya ratusan korban jiwa pada tragdi 16 April lalu.

Chung sendiri belum resmi melepas jabatannya itu sebelum penggantinya dipilih. Namun dua orang yang dipilih Presiden Park sebagai pengganti Chung mengundurkan diri berturut-turut.

Jabatan perdana menteri di Korea Selatan sendiri merupakan bentuk seremonial, karena kekutan pemerintah tetap berada di tangan Presiden. Namun kegagalan Park untuk mencari pengganti perdana menteri dinilai justru membuat publik ragu atas kemampuannya memerintah negara dengan kekuatan ekonomi keempat di Asia itu.

"Ini menjadi masalah. Kami tetap melihat sandungan ini. Pada titik tertentu pemerintah harus mengatur dan menetapkan kebijakan," kata Daniel Pinkston dari International Crisis Group seperti dikutip Reuters. [mel]

Populer

UPDATE

Selengkapnya